Bab Empat Puluh Satu: Aprikot Merah dan Aprikot Hijau
Begitu melihat wanita itu, Wang Bingquan langsung meninggalkan Pan Ziqian, duduk di samping wanita itu, lalu dengan luwes menggenggam tangannya.
"Akhir-akhir ini, apakah kau baik-baik saja?"
"Ya, terima kasih atas perhatian Tuan Muda, Hong Xing baik-baik saja akhir-akhir ini." Meskipun ucapan wanita bernama Hong Xing itu terdengar sopan, nada suaranya tetap mengandung sedikit keluhan.
"Kau berbohong. Waktu aku datang tadi, nyonya Chen bilang padaku bahwa kau akhir-akhir ini tidak berselera makan dan minum. Kalau kau sampai jatuh sakit, bagaimana jadinya?"
Mendengar itu, wanita itu spontan menarik tangannya dengan sedikit kesal.
"Tuan muda tentu sibuk dengan urusannya. Bisa sesekali melihat Hong Xing saja sudah merupakan kehormatan besar bagiku, mana berani membuatmu repot memikirkan keadaanku."
Melihat tangan lembut itu terlepas, Wang Bingquan tanpa malu-malu kembali menggenggamnya.
"Memang akhir-akhir ini aku agak sibuk, sehingga sedikit mengabaikanmu. Itu adalah kesalahanku. Karena itu aku membawakanmu sebuah hadiah kecil sebagai permintaan maaf."
Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil persegi panjang dari dadanya. Melihat wanita di sampingnya masih cemberut, Wang Bingquan membuka kotak bersulam itu sendiri. Di dalamnya tergeletak sebuah tusuk rambut berbentuk kupu-kupu ungu.
Wanita di sampingnya akhirnya tak tahan untuk meliriknya karena penasaran. Wang Bingquan segera mengambil tusuk rambut itu dan menyematkannya di sanggul wanita itu.
"Indah sekali, cocok sekali dengan pakaian ungu yang dikenakan Xiang'er hari ini."
Wanita berbaju ungu itu akhirnya tersenyum. "Tak tahu malu, siapa Xiang'er-mu?" Ia langsung memutar bola matanya.
"Bagaimanapun, wanita cantik tetaplah wanita cantik. Bahkan memutar mata pun tetap menawan, membuat hati terguncang," Wang Bingquan masih sempat memuji.
"Eh, saudara Pan, kenapa berdiri saja di situ? Ayo duduk sini," Wang Bingquan menoleh sekilas, baru sadar dari tadi Pan Ziqian berdiri di samping. Putra Pan yang tadinya merasa lapar kini sama sekali tak merasakan lapar, karena barusan ia seolah-olah dipaksa menelan semangkuk besar makanan anjing.
Setelah Pan Ziqian duduk, Wang Bingquan segera memperkenalkan keduanya,
"Kak Hong Xing, ini temanku, Tuan Muda Pan."
"Saudara Pan, ini adalah sahabat wanitaku, Kak Hong Xing."
Keduanya saling mengangguk. Pan Ziqian akhirnya bisa melihat sendiri kecantikan sang primadona yang terkenal itu: mengenakan baju ungu dan rambut disanggul tinggi, kini dihiasi tusuk rambut pemberian Wang Bingquan. Riasannya cukup tebal, namun sama sekali tidak tampak norak, justru menampilkan kesan lembut dan anggun. Wajahnya memang seperti kabar yang beredar, benar-benar menawan dan mampu mengguncang negeri.
"Kak Hong Xing, kami ke sini ingin menanyakan tentang seseorang."
Pan Ziqian tak bisa menahan diri untuk bicara lebih dulu, namun begitu ia buka mulut, ia mendapati wajah wanita di seberang meja tiba-tiba berubah tidak ramah. Saat ia masih bingung, Wang Bingquan langsung menyela,
"Xiang'er, jangan pedulikan omongannya. Aku ke sini memang khusus untuk menemuiimu, hanya saja Saudara Pan kebetulan memintaku menanyakan sesuatu padamu."
"Begitu, lantas Tuan Muda Pan ingin menanyakan tentang siapa?" Raut wajah Hong Xing kembali normal. Wang Bingquan diam-diam mengusap keringat, dalam hati memaki Pan Ziqian sebagai rekan yang mengacau. Pan Ziqian sendiri akhirnya mengerti duduk perkaranya, sungguh hati wanita itu sulit ditebak, sedikit salah bicara saja bisa menyinggungnya. Untung Wang Bingquan ada di sini, kalau tidak, ia sudah menyinggung orang tanpa sadar.
Melihat Wang Bingquan terus-menerus memberi isyarat dengan matanya, Pan Ziqian baru sadar dan segera berkata,
"Kakakku beberapa hari ini tidak pulang ke rumah, ayah sangat cemas dan menyuruhku mencari tahu keberadaannya."
"Siapakah kakak Tuan Muda Pan?"
"Kakakku bernama Pan Zijian."
"Oh, jadi Pan Zijian itu kakak Tuan Muda Pan." Begitu nama disebut, Hong Xing langsung tahu siapa orangnya. Pan Ziqian jadi agak malu, rupanya kakaknya memang cukup terkenal di lingkungan rumah bordil, sebut saja namanya, semua orang pasti tahu.
"Beberapa hari lalu kakakmu memang menginap di Zui Xing Lou, tapi tadi sore sudah pergi. Mungkin sekarang sudah pulang."
"Biasanya kakak Saudara Pan menemui gadis mana di sini?"
Wang Bingquan tak tahan untuk bertanya, bukan karena ia suka berkunjung ke rumah bordil, melainkan murni rasa ingin tahu yang aneh.
"Eh... maaf kalau membuat kalian tertawa, Tuan Pan Zijian sering menemui adik perempuanku."
"Adikmu itu pasti Nona Qing Xing, berarti..."
Wang Bingquan terdiam sejenak, membuat kedua orang lainnya penasaran.
"Itu berarti aku dan kakak Saudara Pan jadi besan, Saudara Ziqian, hubungan kita jadi makin erat!"
Wang Bingquan menatap Pan Ziqian dengan penuh semangat, sementara Pan Ziqian pura-pura tidak mengenalnya, dan Hong Xing diam-diam mendesah, dalam hatinya mengumpat karena Wang Bingquan tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengambil untung darinya.
Informasi sudah didapat, namun mereka pun tak bisa langsung pergi, sebab kalau begitu tujuan kedatangan malam ini akan terlalu jelas, bisa-bisa menyinggung Nona Hong Xing. Maka mereka pun mulai mengobrol. Wang Bingquan mendapati, obrolan orang zaman dulu memang membosankan, apalagi jika keduanya orang berilmu, semakin membosankan saja. Di hadapannya ini, Pan Ziqian keturunan keluarga terhormat, pasti sudah banyak membaca buku-buku klasik, sementara Hong Xing dikenal sebagai perempuan berbakat, mahir dalam musik, catur, kaligrafi, dan lukisan. Mereka berdua pun membicarakan teori musik, setelah itu membahas para cendekiawan ternama masa kini, sedangkan Wang Bingquan sama sekali tak bisa ikut nimbrung.
Karena bosan, ia pun bangkit bermaksud keluar berjalan-jalan.
"Wang Xiong, mau ke mana?"
"Kalian saja yang lanjutkan obrolannya, aku ke kamar kecil sebentar."
Wang Bingquan tentu tahu bahwa Hong Xing hanya bersandiwara kepadanya, dan ia sendiri juga tidak punya perasaan sungguhan. Ia juga tidak khawatir bila kedua orang itu berduaan di dalam ruangan, maka ia pun keluar.
Keluar dari kamar, Wang Bingquan menelungkup di pagar lantai tiga, memandang ke bawah. Harus diakui, lantai tiga memang punya kelas sendiri. Para wanita di bawah mengenakan pakaian terbuka, dan pemandangan dari atas sungguh memanjakan mata. Saat ia sibuk menikmati pemandangan, tiba-tiba terdengar suara batuk pelan di sampingnya.
Ia menoleh, mendapati seorang wanita berbaju biru berdiri di hadapannya. Setelah ia amati, ternyata wajah wanita itu persis sama dengan Hong Xing di dalam ruangan tadi, hanya saja riasan dan gaya rambutnya berbeda. Wang Bingquan memberi salam dengan sopan.
"Sepertinya engkau adalah primadona Qing Xing itu, bukan?"
Wanita di hadapannya mengangguk, tapi raut wajahnya tak ramah. Tak perlu ditebak, Wang Bingquan tahu tingkahnya barusan sudah dilihat oleh wanita itu.
"Tuan, silakan ikut saya."
Ada kejutan seperti ini? Wang Bingquan pun menurut tanpa banyak tanya. Kamar Qing Xing letaknya tepat di samping kamar Hong Xing, tata letak keduanya pun sangat mirip.
Setelah Wang Bingquan duduk, Qing Xing menuangkan teh untuknya.
"Tuan tahu betapa berbahayanya tempat ini?"
"Bahaya dada?"
Mungkin karena tadi terlalu banyak melihat, ia malah salah paham dengan maksud ucapan Qing Xing. Namun wanita itu tidak menyangka pikiran Wang Bingquan bisa begitu aneh.
Wanita berbaju biru itu mengangguk. "Orang di balik tempat ini bukanlah seseorang yang bisa kau usik."
Wang Bingquan merasa lucu. Ia adalah Pangeran Kedelapan, bahkan kalau orang itu adalah Kaisar, ia tetap bisa datang dan pergi sesuka hati.
"Kau salah paham, aku datang hanya untuk bersenang-senang, tidak cari masalah. Siapa pun orang di balik tempat ini, tidak ada urusannya denganku."
Mendengar itu, Qing Xing tersenyum tipis, tidak menjawab, hanya berkata pelan, "Tuan, jaga dirimu baik-baik."
Melihat wanita itu tidak ingin melanjutkan pembicaraan, Wang Bingquan pun tidak memaksa, ia bangkit hendak pamit. Namun saat ia baru sampai di pintu, terdengar suara dari belakang,
"Yang Mulia, sebaiknya Anda menjauh dari kakakku."
Ia tahu jati diriku? Tanpa menoleh atau bertanya, Wang Bingquan mendorong pintu dan keluar.