Bab Tiga Puluh Tujuh: Kunjungan
Merasa terlalu bosan di rumah, Wang Bingquan akhirnya memutuskan untuk menemui Pan Ziqian. Mungkin karena lelucon yang ia buat tempo hari terlalu berlebihan, Pan Ziqian sudah beberapa hari tidak menemuinya. Kini mereka telah menjadi sekutu, rasanya perlu untuk duduk bersama dan berbicara dengan baik.
Setelah berkemas, Wang Bingquan menaiki kereta kuda yang sudah dipersiapkan menuju kediaman keluarga Pan. Istana Wang Ankang terletak di barat kota, sedangkan kediaman Wang Anbei berada tepat di timur. Jarak keduanya membentang melintasi seluruh ibu kota, bahkan dengan kereta kuda pun butuh waktu hampir setengah jam untuk sampai.
Setibanya di sana, Wang Bingquan memijat pinggangnya yang pegal. Kenyamanan kereta kuda ini memang tidak bisa diandalkan, bahkan dengan bantalan tebal pun, ia masih dapat merasakan setiap getaran jalanan.
Setelah turun dan meregangkan badan, ia menatap megahnya kediaman Wang Anbei. Walaupun tak semewah istananya sendiri, rumah ini tetap tergolong megah dan layak disebut rumah bangsawan, apalagi kekuatan ekonomi keluarga Pan memang patut diperhitungkan.
Pengikutnya mengetuk pintu utama. Yang membuka adalah seorang penjaga gerbang.
“Anda mencari siapa?”
Meski hanya penjaga, setelah bertahun-tahun bekerja di sini, matanya cukup tajam. Ini pertama kalinya Wang Bingquan datang, tapi dari pakaiannya yang mewah, penjaga itu bisa menebak bahwa status tamunya pasti tinggi, sehingga ia pun berbicara dengan sangat sopan.
“Ini adalah Pangeran Ankang, ingin bertemu dengan putra tuan rumah,” ujar pengikut Wang Bingquan sebelum ia sempat bicara.
“Oh, silakan masuk.”
Penjaga gerbang segera membukakan pintu. Biasanya, tamu harus menunggu di luar. Meski keluarga Pan bukan keturunan langsung, gelar pangeran mereka tetap sah. Para pejabat biasa pun harus memperlakukan mereka dengan hormat. Namun, tamu hari ini adalah pangeran berdarah kerajaan, anak dari kaisar yang sedang berkuasa. Jika bicara tentang kedudukan, tuan rumah pun masih di bawahnya. Penjaga yang pandai membaca situasi pun segera mempersilakan masuk.
Istananya memang tak semegah milik Wang Bingquan, bahkan patung singa di gerbang pun tampak lebih kecil. Namun, berbeda dengan kediaman Wang Ankang yang setiap langkahnya dipenuhi pemandangan indah, istana Wang Anbei memiliki tata letak yang sederhana dan jelas, menghadap utara ke selatan, segala sesuatu tertata simetris, bangunannya pun rapi. Tak mungkin tersesat di dalamnya.
Dipandu penjaga, mereka melewati lorong panjang sebelum tiba di ruang tamu.
“Saya akan memanggil putra tuan, mohon Tuan menunggu sebentar.”
Penjaga keluar sambil memerintahkan seorang pelayan perempuan untuk membawakan teh. Sebenarnya, untuk tamu sekelas Wang Bingquan, minimal seharusnya kepala pelayan yang menyambut, namun hari ini kepala pelayan sedang menemani tuan rumah keluar, jadi penjaga terpaksa menggantikannya sementara.
Tak lama kemudian, pelayan perempuan masuk membawakan teh. Sekilas Wang Bingquan melirik dan mendapati bahwa pelayan perempuan di keluarga Pan memang jauh lebih cantik dibandingkan yang ia punya di rumah. Tak heran Pan Ziqian pernah kehilangan kendali setelah mabuk. Melihat pria di depannya menatapnya terus, pipi pelayan itu langsung memerah.
“Silakan minum tehnya, Tuan,” katanya pelan, menunduk saat menyerahkan secangkir teh. Wang Bingquan menerimanya dengan sopan tanpa memperhatikan lebih lanjut. Ia masih merasa dirinya cukup bermoral.
“Nona, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Silakan, Tuan.”
Tidak tahu pasti siapa pria di depannya, pelayan itu terus memanggilnya “Tuan”.
“Aku adalah sahabat dari Tuan Muda Pan. Kudengar saat perayaan ulang tahun Tuan Tua Pan, Tuan Muda pernah menggoda seorang pelayan di depan umum, hingga dihukum digantung oleh Tuan Pan dan dicambuk selama satu jam. Apakah itu benar?”
Wajah pelayan yang semula hanya sedikit memerah, kini jadi merah padam sampai ke telinga.
Melihat pelayan itu kelihatan sangat malu, Wang Bingquan mulai sadar, jangan-jangan yang ia tanyakan itu memang orangnya. Makin lama makin yakin, betapa sialnya!
Pelayan itu menundukkan kepala lebih dalam, hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Suasana pun jadi sangat canggung.
Saat itu Wang Bingquan menyesal, kenapa tadi harus ikut campur. Melihat suasana makin canggung, ia buru-buru mencoba mencari cara untuk mencairkan suasana.
“Eh, Pan benar-benar punya selera bagus.”
Setelah berpikir lama, akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan. Pelayan di depannya makin menunduk.
Saat itu, seorang pria masuk ke ruangan. Dialah Pan Ziqian. Begitu masuk, ia langsung merasakan suasana aneh. Walaupun tak tahu apa yang terjadi, dari raut wajah pelayan bernama Niannu, ia tahu Pangeran Delapan pasti baru saja berbuat ulah.
“Kau boleh pergi,” kata Pan Ziqian dengan suara berat. Mendengar itu, Niannu cepat-cepat menunduk dan keluar.
“Ada apa barusan?”
Melihat nada bicara Pan Ziqian tidak ramah, Wang Bingquan sadar telah terjadi kesalahpahaman. Ia segera menjelaskan semua yang baru saja terjadi. Namun, setelah mendengar penjelasannya, wajah Pan Ziqian malah makin suram.
Selesai sudah, makin canggung jadinya!
“Eh, Pan, kita sama-sama laki-laki, aku mengerti kok. Lagi pula, pelayan itu memang cantik. Kalau pun bukan jadi istri utama, minimal bisa dijadikan selir.”
Entah kenapa Wang Bingquan malah mulai jadi mak comblang, sementara Pan Ziqian tak menggubris.
“Setelah aku pulang hari itu dan sadar, aku pun teringat semua kejadian malam sebelumnya. Karena semuanya sudah terbuka, tak perlu aku sembunyikan lagi.”
Usai berkata, Pan Ziqian berdiri dan membungkuk dalam-dalam pada Wang Bingquan. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Wang Bingquan terkejut.
“Pan, apa maksudmu?”
“Mulai sekarang, aku akan bergantung padamu, Pangeran Delapan!”
Barulah Wang Bingquan paham, maksud Pan Ziqian hanya ingin berlindung padanya.
“Haha, tenang saja, kita ini teman, tak perlu sungkan.”
Sambil berbicara, ia membantu Pan Ziqian berdiri. Kali ini Wang Bingquan tidak lagi berkata berlebihan seperti sebelumnya, cukup menyebut teman, meskipun terasa lebih berjarak, namun lebih tulus.
Keduanya duduk, suasana pun jadi lebih hangat, Pan Ziqian juga tidak setegang sebelumnya.
“Benar tak mau dipikirkan lagi?”
“Pikirkan apa?”
“Menjadikan selir.”
“……”
Percakapan mengalir, Wang Bingquan memang suka akrab dengan orang, namun Pan Ziqian terlalu kaku dan serius. Banyak candaan Wang Bingquan yang justru dijawab dengan analisa serius, membuat Wang Bingquan agak pusing. Ia malah lebih suka Pan Ziqian yang mabuk dan lepas seperti sebelumnya.
Ketika mereka sedang berbincang, pelayan istana datang melapor makan siang telah siap. Mendengar kabar itu, Wang Bingquan langsung bersemangat. Sesampainya di tempat, Wang Bingquan baru tahu makan siang diadakan di kamar Pan Ziqian.
“Aku tidak suka diganggu, jadi biasanya menjamu tamu di paviliunku sendiri. Semoga Pangeran tidak keberatan.”
Wang Bingquan mengangguk, baginya tidak masalah, makan di mana saja sama saja. Namun ia senang karena kini Pan Ziqian tidak lagi terlalu formal, memangilnya dengan sapaan akrab “Pangeran Wang” alih-alih gelar resmi.
Ia menepuk bahu Pan Ziqian, “Begini dong, sesama teman tak perlu terlalu resmi, minum dan bercanda itulah inti persahabatan.”
Pukulan Wang Bingquan cukup keras, meski sudah dikurangi tenaganya, Pan Ziqian tetap hampir jatuh dari kursi.
Mereka duduk, berbagai hidangan lezat dihidangkan. Wang Bingquan pun langsung menyantap tanpa sungkan. Masakan istana ternyata memang enak, tampilan menarik dan rasa pun menggugah selera.
Sebenarnya Wang Bingquan ingin mabuk bersama lagi, tapi Pan Ziqian buru-buru menolak. Katanya, siang hari tidak baik minum-minum. Memang benar, tapi Wang Bingquan tahu sahabatnya itu takut kalau mabuk lagi bakal bikin masalah dan kena cambuk.
Tanpa minuman keras, makan siang itu pun selesai kurang dari setengah jam. Sepanjang makan, Wang Bingquan terus mengomentari rasa masakan dan berjanji akan mengundang Pan Ziqian ke istananya untuk mencicipi nikmatnya masakan rumahnya sendiri. Pan Ziqian pun setuju dengan anggukan.