Bab Empat Belas Undangan
Setelah makan setengah ekor babi, Wang Bingquan bergegas menuju ruang kerja kaisar. Ia bahkan tak mengetuk pintu, langsung menendang dan masuk begitu saja, membuat sang kaisar yang tengah memeriksa berkas-berkas pemerintahan terkejut bukan main.
Wajah kaisar yang dipenuhi amarah langsung mendongak, dan mendapati anaknya yang tak tahu aturan itu. Bocah bandel ini, apa lagi yang mau diperbuatnya kali ini? Setiap kali Wang Bingquan muncul, kaisar selalu saja tak tahan untuk mengumpat dalam hati.
Wang Bingquan berdiri tegap, lalu dengan keras menaruh sebuah benda di atas meja kerja sang kaisar, suaranya begitu nyaring sampai membuat kaisar sekali lagi terlonjak kaget.
“Kau berani—”
Namun ketika kaisar melirik sekilas, kata-kata yang hendak keluar langsung tertelan. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu, buru-buru menunduk memperhatikan gelas itu.
Setelah mengamati beberapa saat, ia pun perlahan mengambil gelas tersebut dan mulai menelitinya dengan saksama.
Saat ini, Wang Bingquan merasa sangat bangga. Tadi saat meletakkan gelas itu, ia hampir saja mengucap, “Ayo, panggil aku Ayah!” Untung saja ia masih mampu menahan diri.
Setelah meneliti selama hampir seperempat jam, kaisar memastikan apa yang dilihatnya. Ia pun tak berkata sepatah kata, langsung menyimpan gelas kaca itu ke dalam laci, sementara Wang Bingquan hanya berdiri di samping, tak tahu apa yang sedang dilakukan ayahnya.
Setelah menutup laci, kaisar menatap Wang Bingquan.
“Ada perlu apa kau kemari?”
“Aku…”
Tiba-tiba ditanya demikian, Wang Bingquan langsung kehilangan kata-kata. ‘Aku datang untuk pamer!’ dalam hatinya. Tapi mengapa ia malah menyimpan “Karya Pertama Buatan Tangan Pangeran Kedelapan: Gelas Kaca Delapan Sisi Edisi Terbatas” milikku, lalu bertanya apa perluanku?
Nama untuk karyanya saja sudah ia siapkan.
“Kalau tidak ada urusan, keluar saja. Lain kali jangan masuk dengan tergesa-gesa seperti ini, tidak pantas.”
……
Setelah itu, kaisar langsung menunduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah-olah Wang Bingquan tak ada di sana. Wang Bingquan mulai meragukan apakah semua ini hanyalah mimpi, atau jangan-jangan ia memang belum pernah membuat gelas itu.
Wang Bingquan pun berbalik hendak pergi, dan ketika satu kakinya sudah melangkah melewati ambang pintu, suara kaisar terdengar dari belakang.
“Kau masih berutang lima gelas lagi, dan seratus botol.”
Wang Bingquan hampir tersandung ambang pintu dan nyaris terjerembab di depan ruang kerja kaisar.
***
Kembali ke kediamannya, Wang Bingquan mulai memikirkan bagaimana memanfaatkan keahliannya itu.
Karena kaca sangat berharga di masa ini, ia bisa memanfaatkannya untuk mengeruk untung besar. Lagipula, hanya pangeran yang kaya yang bisa hidup nyaman. Jika sudah kaya, ia tak perlu lagi memohon belas kasihan dari para pejabat keuangan kerajaan.
Tanpa banyak bicara, Wang Bingquan langsung menuju pabrik kaca, menyuruh para pekerja membuat belasan gelas lagi. Lalu ia meminta Xiao Chunzi mencari beberapa pelayan istana muda, masing-masing membawa satu set gelas untuk dibawa ke berbagai pasar besar. Tugas mereka hanya memamerkan barang tanpa menjualnya; siapa pun yang menawar lebih dari seribu tael, akan diberi undangan, dan diberitahu bahwa gelas-gelas itu akan dilelang sepuluh hari kemudian.
Undangan itu dicetak khusus oleh Wang Bingquan sendiri, dengan tempat lelang sementara ditetapkan di rumah makan terbesar di ibu kota—Restoran Yanque.
Barang yang dilelang ialah hak penjualan perwakilan gelas kaca, beserta beberapa produk kaca indah lainnya.
Ia merasa, lelang kali ini pasti akan tercatat dalam sejarah kerajaan.
Xiao Chunzi dan beberapa pelayan istana muda itu menunggu di pasar selama tiga hari, dan dalam waktu singkat telah membagikan lebih dari sembilan puluh undangan. Wang Bingquan tak bisa menahan keterkejutannya; ternyata begitu banyak orang kaya di ibu kota.
Di antara mereka, tak hanya para pedagang, tetapi juga banyak pejabat dan bangsawan. Pedagang tentu mengejar keuntungan, sementara para pejabat dan bangsawan ini menyukai hal-hal baru. Mereka ini adalah orang-orang dengan harta melimpah atau berlatar belakang keluarga terhormat, bahkan banyak di antara mereka adalah anak-anak pejabat tinggi yang sehari-harinya hanya menghabiskan waktu berburu burung dan anjing, selalu mencari hiburan dan menghabiskan uang.
Anak-anak pejabat seperti ini sangat suka berkumpul ramai-ramai. Begitu mendengar ada hal baru dan menarik, mereka pasti datang berbondong-bondong. Sebagian besar penerima undangan kali ini adalah para pemuda kaya semacam itu.
Wang Bingquan sudah berpesan sebelumnya agar setiap kali memberikan undangan, identitas penerimanya dicatat dengan rapi. Daftar nama dibagi dua: satu untuk para pedagang, satu lagi khusus untuk para bangsawan dan pejabat tinggi. Meski ia tahu bakal banyak nama penting di dalamnya, saat benar-benar melihat daftar itu, Wang Bingquan tetap saja dibuat terkejut.
Nama dengan status terendah saja adalah putra gubernur, sedangkan gubernur adalah pejabat tingkat empat paling rendah. Ada pula belasan orang dari kalangan pengawas pemerintah dan gubernur jenderal. Bahkan anak-anak menteri dan wakil menteri dari enam departemen utama pun ada lima atau enam orang, hampir setengah dari putra pejabat tinggi di ibu kota berkumpul di sini.
Bukan hanya anak pejabat, bahkan ada beberapa orang terpandang yang akan datang langsung. Wang Bingquan mulai curiga, jangan-jangan ada yang tahu dirinya adalah dalang di balik semua ini, sehingga datang untuk menyelidiki. Namun ia segera menepis pikiran itu, karena sejak awal ia memang tak pernah muncul di depan umum. Ketika menjual tempat ludah dari kaca beberapa waktu lalu, masyarakat hanya mendengar desas-desus tentang seorang pedagang misterius yang menjual barang pecah belah indah dan menakjubkan…
Tak ingin memikirkan itu lagi, Wang Bingquan terus membolak-balik daftar nama. Namun di bagian akhir, ia benar-benar tercengang. Tiga nama terakhir yang tertera di situ: Wang Bingxian, Wang Bingde, dan Wang Bingyao.
Tiga orang ini bukan orang lain, melainkan Putra Mahkota, Pangeran Kedua, dan Putri Ketiga—kakak-kakak Wang Bingquan sendiri.
Wang Bingquan memang tidak terlalu mengenal saudara-saudara sedarahnya itu. Terakhir ia bertemu mereka ketika membaca puisi ngawur di Aula Kesejahteraan. Saat itu, yang tertawa mendengar puisinya adalah Putri Ketiga. Lalu mengapa mereka tiba-tiba ingin ikut lelang? Kebetulan atau ada maksud tersembunyi?
“Kenapa kalian mengundang mereka?” tanya Wang Bingquan pada Xiao Chunzi yang berdiri di sisinya.
“Tuanku pernah berkata, siapa pun yang menawar di atas seribu tael, semua harus diundang.”
Wang Bingquan hanya bisa melirik Xiao Chunzi dengan pasrah. “Jadi semua perintahku kau jalankan mentah-mentah, ya? Tak tahu apa itu fleksibilitas? Kalau aku suruh kau makan kotoran, kau juga mau?”
Mendengar itu, Xiao Chunzi tampak ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk, “Baik!” Selesai berkata, ia langsung hendak pergi.
“Kembalilah!”
Tak banyak orang yang bisa membuat Wang Bingquan kehilangan kesabaran. Ia berusaha menenangkan diri.
“Ceritakan padaku bagaimana kau bertemu mereka.”
“Menjawab tuanku, Putra Mahkota dan Putri Ketiga datang bersama. Putri Ketiga sangat menyukai gelas kaca itu, langsung menawar lima ribu tael di tempat. Ketika tahu gelas itu tidak dijual, ia sangat kecewa. Saat hamba katakan bisa ikut lelang, ia langsung memohon pada Putra Mahkota untuk menemaninya. Putra Mahkota pun akhirnya setuju.”
Sebelumnya, Wang Bingquan memang pernah mendengar dari Permaisuri Yang bahwa Putri Ketiga kehilangan ibunya sejak kecil dan diasuh oleh ibu Putra Mahkota, yaitu permaisuri, sehingga hubungan mereka sangat dekat.
“Sepertinya mereka berdua memang kebetulan. Lalu, bagaimana dengan si nomor dua?”
Kesan Wang Bingquan terhadap Pangeran Kedua tidak terlalu baik; wajahnya selalu muram. Ia bahkan sempat curiga kalau serangan terhadap dirinya dulu adalah suruhan pangeran itu.
“Pangeran Kedua sepertinya sedang keluar istana untuk urusan lain. Saat melihat gelas kaca di pasar, ia menawar seribu tael untuk membelinya. Setelah menerima undangan, ia bilang akan melihat-lihat lelang kalau ada waktu, lalu buru-buru pergi.”
“Kau yakin mereka tidak mengenalimu?”
“Tidak, tuanku. Saat itu hamba sudah berdandan menyamar.”
“Menyamar?” Wang Bingquan sempat tertegun, apakah ia tak salah dengar. Ia pun menatap Xiao Chunzi dari atas ke bawah, membuatnya gugup. Akhirnya, Wang Bingquan menarik kembali pandangannya.
“Nanti ajari aku caranya.”
“……”
Bagi Wang Bingquan, tak ada yang aneh dengan keahlian semacam itu. Semua orang pasti punya keahlian masing-masing. Namun, saat ini ia lebih khawatir pada tiga pangeran dan putri itu. Dengan tangan mengelus janggut yang tak ada, Wang Bingquan berpikir keras, jelas ada sesuatu yang ganjil di balik semua ini. Sebaiknya ia berhati-hati dan tak perlu menampakkan diri pada hari lelang nanti.