Bab 16

Intrik Istana Serangga yang gemar tertidur 3513kata 2026-02-08 17:54:46

Pada saat itu, bola mata Gu Nian berputar beberapa kali. Dengan memanfaatkan posisi lawannya yang sedang ditahan, ia memperhatikan tangan gadis muda itu. Tampak bekas kapalan karena sering mengurus pekerjaan rumah tangga. Jika mengabaikan luka di wajahnya, sebenarnya gadis ini memiliki paras yang menarik. Kalau tidak, tentu ia takkan dijual ke rumah bordil. Seburuk-buruknya sebuah rumah bordil, penampilan para pelayan wanitanya tetap menjadi pertimbangan.

“Bu Ren, tak ada yang mencuci bajuku, tak ada yang memasak, tak ada yang memanaskan air, tak ada yang membersihkan rumah…” Gu Nian sengaja memutus perkataannya di tengah jalan. Ia yakin mucikari itu pasti paham maksudnya.

Benar saja, sang mucikari yang tadi masih marah kini langsung tersenyum lebar dan mendekat ramah. “Waduh, Tabib Gu, Anda benar-benar penolong hidup saya!”

“Tapi wajahnya sudah rusak, lho.”

“Saya rugi dikit, sembilan ratus koin saja.”

Gu Nian menendang pelan gadis yang masih kebingungan itu. “Hei, siapa namamu?”

Sejak tadi, Gu Nian sudah merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis ini. Selama itu, ia belum pernah mendengar sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Gadis itu membuka mulut, namun hanya suara “aa, aa” yang keluar. Tak ada satu kata pun yang jelas.

“Ia memang bisu sejak lahir, tapi pendengarannya baik. Kalau tidak, dengan wajah seperti itu, mana mungkin hanya laku satu tali uang.”

“Delapan ratus koin,” Gu Nian menawar. “Aku juga harus beli obat untuk mengobati lukanya. Lagi pula dia terluka di sini, masa aku harus menanggung rugi?”

“Aduh, Tabib Gu, kasihanilah saya, tawaran Anda terlalu kejam.”

“Bu Ren, saya kira para gadis di sini pasti sering luka. Saya akan merawat mereka dengan baik.”

Ucapan Gu Nian itu tepat menyentuh kelemahan sang mucikari. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya menyerah. “Baiklah, karena Tabib Gu yang meminta, delapan ratus koin saja. Saya akan suruh anak buah mengambil surat jual diri.”

“Terima kasih, Bu Ren. Tolong kirim seseorang ikut saya untuk mengambil uang.”

Sang mucikari bergegas keluar memberi perintah, dan orang lain pun turut meninggalkan ruang penyimpanan kayu itu. Tinggallah Gu Nian dan gadis itu berdua.

Gadis itu masih tampak terkejut dan tak percaya, menatap Gu Nian dengan waspada. Untungnya, ia tidak bertindak macam-macam, duduk diam saja membiarkan Gu Nian memeriksa wajahnya di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela.

Luka yang dibuat oleh pecahan keramik itu sangat tidak rata, yang jelas akan mempengaruhi proses penyembuhan. Gu Nian hanya bisa berharap bekas lukanya nanti tidak terlalu buruk. Darahnya sudah setengah mengering, namun membiarkan luka terbuka seperti ini dan membawa orang pulang ke rumah bisa membuat orang-orang ketakutan. Ia berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sapu tangannya dan menyerahkannya pada gadis itu.

“Tutup wajahmu, jangan sampai menakuti orang lain.”

Tangan gadis itu penuh debu dan darah. Ia mengusapnya sekadarnya pada bajunya yang sama kotornya, lalu menerima sapu tangan itu, mengatur letaknya dengan hati-hati, dan menempelkan pada wajah di bawah mata, memastikan tidak langsung mengenai luka.

“Ada barang bawaan yang harus diambil?”

Gadis itu menggeleng.

Di luar, sang mucikari kembali membawa surat jual diri dan menyerahkannya pada Gu Nian.

“Gadis Bisu?” Gu Nian membaca nama di surat itu. Gadis itu mengangguk dan mengeluarkan suara “aa” pelan.

“Baiklah, terima kasih, Bu Ren. Kami pamit pulang.”

“Saya juga harus berterima kasih, Tabib Gu, sudah menyelematkan saya.” Menjual gadis yang dianggap tak berguna ini dengan harga miring, sang mucikari merasa cukup puas.

Gu Nian menyelipkan surat itu ke dalam bajunya, mengangkat kotak obat, memberi isyarat pada Gadis Bisu untuk bangkit dan mengikutinya. Bersama sang mucikari, mereka keluar dari ruang penyimpanan kayu, lalu berpisah, ditemani seorang lelaki untuk mengambil uang di rumah.

Gadis Bisu berjalan dengan kepala tertunduk, menjaga jarak satu langkah di belakang Gu Nian, dan lelaki pengawal mengikuti di belakang mereka. Di jalan, beberapa orang melirik aneh rombongan kecil itu, tapi tak ada yang benar-benar memperhatikan.

Mereka kembali ke rumah dengan lancar. Setelah sampai, Gu Nian mengambil uang untuk membayar si pengawal, lalu menutup pintu, dan kembali mengurus Gadis Bisu.

Di kamar yang memang disiapkan untuk pelayan, tersedia perlengkapan mandi lengkap dan bersih. Gu Nian membawa Gadis Bisu ke sana, menyuruhnya membawa handuk, baskom, sabun, dan lain-lain ke sumur untuk mencuci tangan, sementara ia sendiri menyalakan kompor di dapur untuk merebus air.

Gadis Bisu benar-benar kotor, bahkan rambutnya pun warnanya sudah berubah. Gu Nian membasahi handuk, membalutnya di tangan, dan perlahan-lahan membersihkan wajah dan luka gadis itu, hingga akhirnya benar-benar bersih. Setelah itu, ia membawanya ke ruang praktik untuk diobati.

Tak ada plester khusus, jika memakai perban, setengah wajah gadis itu harus dibalut, tapi ini akan mengganggu saat mandi. Gu Nian berpikir sejenak, lalu membalut bagian tengah wajahnya dengan kain kasa, hanya menyisakan bagian atas dan bawah hidung.

“Kamu memang kejam pada dirimu sendiri, berani melakukan itu. Tapi kalau bukan karena kamu keras kepala, aku juga takkan membelimu. Namaku Gu, Gu Nian. Mulai sekarang, kamu adalah pelayanku, mengurus kehidupanku sehari-hari. Mengerti?”

Sebelum perawatan, Gadis Bisu sempat diberi minum arak keras. Waktu perawatan pun cukup lama, jadi kini ia sudah agak sadar. Mendengar ucapan Gu Nian, ia berusaha turun dari ranjang, lalu berlutut dan memberi salam tiga kali.

Gu Nian tetap tenang menerima penghormatan itu. Ia memang membeli Gadis Bisu karena bisunya, yakin rahasianya tidak akan mudah tersebar.

“Sudah, bangkitlah. Hari ini kita banyak pekerjaan. Harus beli pakaian dan perlengkapan tidur untukmu, juga memandikanmu. Tapi yang paling penting, kamu butuh pakaian bersih dulu.”

Gu Nian menaruh peralatan dalam baskom, menyuruh Gadis Bisu menunggu di ruang praktik, lalu pergi mencuci tangan, mengambil uang di kamar, dan memanggil Gadis Bisu keluar. Mereka pergi mencari ibu-ibu tetangga, menanyakan siapa yang punya pakaian bekas bersih yang cocok untuk dibeli.

Setelah Gu Nian menceritakan asal-usul Gadis Bisu, para ibu dan bibi langsung tergerak rasa iba, juga ingin berjualan. Mereka bergegas pulang mengambil baju.

Setelah memilih-milih, akhirnya pembelian pakaian selesai.

Setelah punya pakaian bersih, waktunya mandi. Para ibu itu menyarankan Gu Nian membawa Gadis Bisu ke Gang Tahu di timur, di sana ada rumah mandi khusus wanita.

“Bapak-bapak bisa punya rumah mandi terang-terangan di jalan utama, perempuan cuma bisa di gang sempit di rumah penduduk. Tandanya sama, kalau lihat ada ceret besar di pintu, berarti itu tempatnya. Cari saja Bu Ma di sana, bayar lebih sedikit, dia pasti membersihkan pelayanmu sampai kinclong.”

“Terima kasih atas sarannya.”

Gu Nian membawa Gadis Bisu pulang dulu, karena hari ini masih ada pasien yang harus diganti obatnya. Ia mengambil kotak obat, Gadis Bisu membawa baskom, handuk, sabun, bakiak, dan mereka berangkat lagi.

Gu Nian tahu di mana Gang Tahu, ia sudah tinggal cukup lama di sini dan hafal jalan-jalan sekitar. Gang itu dinamakan demikian karena di ujungnya ada pabrik tahu, menjadi penanda yang mudah. Dari Jalan Yu Fu ke timur, melewati dua gang, sudah sampai.

Begitu masuk, pemandangannya seperti gang belakang rumah bordil—para wanita mengerjakan tugas rumah di pinggir tembok, anak-anak berlarian. Rumah mandi wanita dengan tanda ceret besar itu tampak sepi, pintunya tertutup, suasananya seperti hendak tutup saja.

“Eh, di sini laki-laki tidak boleh masuk,” beberapa ibu yang sedang menjahit menegur Gu Nian.

“Bibi, apa Bu Ma ada?” Gu Nian segera menarik Gadis Bisu ke depan.

Saat para ibu itu melihat gadis yang kotor dengan wajah terbalut perban, mereka jadi lebih ramah, tapi tetap menyuruh Gu Nian mundur beberapa langkah dari pintu, lalu mereka memanggil Bu Ma.

Bu Ma adalah wanita setengah baya berambut beruban, tampak kuat dan terbiasa kerja berat. Ia menatap Gadis Bisu dari atas ke bawah sebelum bicara, “Dia kotor sekali, butuh banyak air panas.”

“Tak masalah, asal dia bersih dari kepala sampai kaki, dan jangan sampai kena lukanya. Baru saja dijahit, hati-hati sekali.”

“Tenang saja, saya biasa melayani nyonya dan nona dari keluarga terpandang di sekitar sini. Karena Anda tabib, saya terima pelayan Anda.”

“Saya memang sengaja ke sini karena dengar keahlian Bu Ma. Tolong jadikan dia pelayan yang pantas, sesuai penilaian Anda.”

“Itu berarti paket lengkap, dua puluh koin. Anda pasti tahu harga pemandian pria, kami di sini harga pas.”

Gu Nian membayar sesuai permintaan, Bu Ma membawa Gadis Bisu masuk, sementara Gu Nian pergi ke Gang Bordil Utara untuk mengganti obat pasien.

Sepulang dari sana, di depan rumah Gu Nian sudah menunggu beberapa pria yang ingin ganti obat. Setelah melayani mereka semua, barulah ia punya waktu mencuci tangan, merebus air untuk teh pertamanya hari itu, dan memasang bendera praktik di depan, membiarkan pintu terbuka.

Gadis Bisu baru kembali saat Gu Nian sedang menyesap teh dan berpikir soal makan siang. Tubuhnya kini bersih, kuku-kukunya pun tak lagi kotor, rambut basah terbalut handuk, wajahnya segar kemerahan, semakin tampak cantik. Perbannya sudah dilepas, dengan satu tangan memeluk baskom, tangan lainnya menahan kain kasa di wajah.

Gu Nian memeriksa lukanya lagi. Bu Ma memang teliti, lukanya baik-baik saja, tapi karena tadi habis mandi, Gu Nian memutuskan mengganti obat dan membalut wajahnya lagi. Lalu ia mengajak Gadis Bisu berkeliling rumah, memperkenalkan kebiasaan hidupnya dan berbagai aturan.

Gadis Bisu mendengarkan dengan saksama, sesekali menepuk dada memberi isyarat ia mengerti.

Gu Nian belum berani memberi tugas berhubungan dengan pekerjaannya, untuk saat ini Gadis Bisu hanya mengurus urusan rumah. Ia juga memutuskan akan mengajarinya membaca, agar kelak bisa lebih membantu.

Makan siang hari itu dimasak oleh Gadis Bisu. Masakannya cukup enak, dan gerak-geriknya di dapur membuat Gu Nian yakin tidak salah membeli gadis ini.

Setelah makan dan beres-beres, mereka pergi ke Jalan Toko Kuno untuk membeli perlengkapan tidur baru, serta beberapa kain. Selain Gadis Bisu yang butuh pakaian, Gu Nian pun butuh baju musim panas baru, karena yang dipakainya masih yang ia bawa dari Qibu.

Gasa juga cepat habis beberapa hari ini, Gu Nian membeli satu pak besar, beserta beberapa barang keperluan lain.

Semua barang sudah lengkap, mereka memanggil becak untuk mengangkutnya ke rumah. Setelah itu, Gadis Bisu sibuk membersihkan rumah, di dapur alat dan perlengkapan sedang disterilkan, sementara Gu Nian tenang meramu obat di ruang praktik, menerima dua pasien dan memperoleh empat ratus koin. Jika haus, tinggal teriak dari dalam, sebentar kemudian Gadis Bisu sudah datang membawakan teh. Hari-hari dengan pelayan memang terasa jauh lebih mudah.