Bab 147 Membuat Li Zicheng Murka (Pembaruan Kelima!)
Sesuai dengan perkiraan Chongzhen, Li Zicheng dengan cepat memberikan jawaban yang menyetujui perundingan damai.
Agar Li Guo tidak menimbulkan masalah yang tak terduga, Chongzhen menyuruh Yang Yuanyong membawa lima ratus prajurit untuk berjaga di Weinan guna mencegah Li Guo datang dari Tongguan dan mengacaukan rencananya.
"Kaisar, kita sudah mendesak maju hingga ke Xi'an, untuk apa kita berunding damai dengan Li Zicheng? Jika kita tidak mampu merebut kota Xi'an tepat waktu, kita bisa mendirikan kemah di luar. Selama ada satu orang yang berdiri di atas tembok kota, kita akan membunuh satu orang. Hamba tidak percaya kita tidak bisa merebut kota Xi'an!" kata Wang Dahu dengan nada tidak puas.
"Pasukan kita hanya berjumlah lima ribu orang, jika kita berbuat begitu, Li Zicheng akan melarikan diri..." kata Chongzhen dengan santai.
"Melarikan diri?" Wang Dahu menatap Chongzhen dengan bingung. Bukankah tadi dikatakan mau berunding damai? Untuk apa takut Li Zicheng melarikan diri?
Namun, Liu Feng justru mengerti apa yang hendak dilakukan oleh Chongzhen. Bukankah dalam seni perang tidak ada tipu muslihat yang terlalu keji?
"Wang Dahu, Liu Feng, kalian pergilah memilih 30 orang. Besok, ikuti Urusan Perundingan Damai."
"Titah junjungan dipatuhi!"
Pada malam harinya, Chongzhen memerintahkan kemah logistik untuk sekali lagi memberikan tambahan makanan kepada seluruh pasukan. Hari ini adalah hari raya kecil akhir tahun, ia ingin seluruh prajurit dan jajarannya merayakan perayaan kecil ini dengan meriah! Sekaligus membuat para pasukan bertahan di atas tembok kota merasa iri!
Setelah itu, Chongzhen mendatangi tenda Liu Rushi. Karena sebelumnya Liu Rushi tidak menyetujui gagasan perundingan damai tersebut, ia harus pergi untuk memberikan penjelasan, sekaligus melakukan beberapa hal yang sepantasnya dilakukan oleh orang dewasa—tentu saja, yang terutama adalah hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.
"Kaisar, untuk apa Anda ingin berunding damai? Bukankah Li Zicheng dahulu pernah berunding damai dengan Anda, tetapi hanya dalam beberapa bulan saja ia kembali memberontak dan mengepung Beijing? Jika Anda berunding damai dengannya, dikhawatirkan itu akan mendatangkan bahaya tanpa akhir di kemudian hari!"
Chongzhen tidak terburu-buru memberikan penjelasan. Ia langsung menerkam Liu Rushi, merabanya dengan penuh nafsu, lalu berkata sambil tersenyum mesra, "Aku memandang pegunungan hijau begitu mempesona, kurasa pegunungan hijau memandangku pun demikian. Akulah Liu Xiahui yang tetap teguh meski memangku wanita!"
Chongzhen merasa rangkaian tindakan tersebut, dipadukan dengan kalimat itu, telah menterjemahkan perundingan damainya dengan sempurna.
"Kau ini, apakah ini yang dinamakan teguh meski memangku wanita!" kata Liu Rushi dengan malu-malu, meski ia sama sekali tidak menghentikan gerakan tangan Chongzhen.
...............
Pada tanggal dua puluh empat bulan dua belas tahun Chongzhen ketujuhbelas, dua li di luar kota Xi'an, panggung perundingan damai telah didirikan. Sebenarnya itu hanyalah dua buah kursi dan sebuah meja.
Li Zicheng melihat kedua kursi tersebut yang diletakkan berdampingan di tengah. Pastilah satu kursi adalah milik Chongzhen sendiri, dan satu lagi milik Wang (pangeran) ini. Tampaknya syarat perundingan damai yang diajukan oleh Chongzhen ini akan cukup adil, karena membiarkan Wang ini duduk sejajar dengannya.
Begitu waktu tengah hari tiba, Chongzhen membawa Jiang Qianxi, Wang Dahu, Liu Feng, dan 30 orang pengawal istana berangkat menuju panggung perundingan damai.
Melihat Chongzhen datang ke panggung perundingan damai dengan membawa orang-orang, di antaranya bahkan terdapat seorang pelayan istana, sedikit kekhawatiran yang sempat dirasakan Li Zicheng pun sirna. Berunding damai kok masih membawa wanita, mungkin Kaisar benar-benar tulus ingin berunding damai dengannya! Karena itu, ia pun membawa pasukannya keluar.
Begitu Li Zicheng berjalan mendekat, Liu Feng segera membentak kelompok Li Zicheng dengan suara lantang, " Lancang! Mengapa kalian tidak berlutut saat menghadap Kaisar!" Semalam, Kaisar secara khusus telah berpesan kepada mereka agar esok harinya memastikan senjata telah terkokang, memprovokasi Li Zicheng, lalu membunuh seluruh orang Li Zicheng!
"Orang ini adalah Raja Dashun, sekaligus penguasa sebuah negeri, dia tidak boleh berlutut!" ucap seorang sarjana yang berpakaian penasihat di sisi Li Zicheng. Orang ini tidak lain adalah Gu Jun'en, sosok yang memberikan usul kepada Li Zicheng untuk merebut Hanzhong terlebih dahulu.
"Aku hanya tahu ada Kaisar Ming yang menganugerahi gelar Pangeran Han, tetapi aku tidak pernah tahu ada Raja Dashun! Jika dia adalah Raja Dashun, itu berarti dia adalah pemberontak! Dan pemberontak harus dibasmi!" cemooh Liu Feng kepada Li Zicheng.
"Apakah seperti ini ketulusan perundingan damai dari Kaisar Ming?"
"Betul!"
"Jika demikian, tidak berunding damai pun tidak apa-apa. Pangeran Han, mari kita pergi!" Gu Jun'en menarik Li Zicheng, pura-pura hendak pergi.
"Huh, kalau begitu terpaksa kami basmi!"
Pada saat itulah Li Zicheng justru berlutut, "Hamba yang hina, Pangeran Han Li Zicheng, menghaturkan sembah kepada Baginda Kaisar. Semoga Baginda senantiasa hidup dan berkuasa selama ribuan tahun!"
Sebenarnya, ketika ia keluar untuk berunding damai, ia juga telah mempersiapkan diri untuk menyerah. Asalkan ia bisa mendapatkan sebidang tanah feodal yang kecil, ia sudah merasa puas. Bagaimanapun, asalnya ia hanyalah seorang pejabat rendah pos pos perbatasan. Dua puluh ratus ribu pasukan di Tongguan saja tidak mampu menghentikan pasukan istana, Zhang Xianzhong yang bajingan itu sepertinya juga telah menyerah, lima puluh ribu pasukan Tian Jianxiu di Shaanxi utara tidak menunjukkan gerakan apa pun, dan bisa dipastikan dua puluh ratus ribu pasukan saudara ketiganya di prefektur Yan'an pun bernasib suram. Lebih baik ia mengalah sekarang, melihat bagaimana Kaisar memperlakukan perundingan damai ini. Jika syarat perundingannya tidak baik, ia toh bisa memberontak lagi di kemudian hari!
"Mari, Qianxi, duduklah, duduk." Chongzhen tidak terburu-buru menyuruh Li Zicheng bangkit. Ia menekan Jiang Qianxi agar duduk di salah satu dari dua kursi tersebut.
"Kaisar, hamba hanyalah seorang pelayan..." kata Jiang Qianxi dengan perasaan cemas.
"Pelayan apa sekarang, aku sekarang mengangkatmu menjadi selir. Karena kau begitu cantik, namamu adalah Selir Li, duduklah!" Setelah Jiang Qianxi duduk, Chongzhen pun menduduki kursi yang satu lagi.
Li Zicheng menyaksikan dengan mata kepala sendiri kursi yang ia duga miliknyatelah diduduki oleh seorang wanita.
"Kaisar, Anda mengirim surat kepada Wang kami yang menyatakan ingin berunding damai. Wang kami melihat dalam surat Anda tertulis bahwa musuh terbesar adalah iblis Qing, dan Anda tampak sangat tulus, sehingga beliau khusus datang kemari untuk berunding damai dengan Anda. Apakah seperti inilah cara Anda berunding damai?" Gu Jun'en tahu betul peribahasa bahwa seorang terpelajar yang bertemu dengan prajurit tidak akan bisa mendebat dengan nalar, maka ia tidak berdebat dengan prajurit rendahan seperti Liu Feng. Namun, Kaisar adalah penguasa sebuah negeri, aturan kesopanan semacam ini pastilah sangat dipahami oleh sang Kaisar.
Tetapi, pelaku utama yang begitu tidak tahu malu ini justru adalah sang Kaisar yang duduk di hadapannya.
"Oh, oh, oh. Aku hampir lupa, bangkitlah!"
Setelah orang-orang Li Zicheng berdiri, Chongzhen melanjutkan perkataannya, "Betul, iblis Qing adalah musuh terbesar, disusul oleh Zhu Yousong dan Zhu Changfang. Adapun Wang dari pihak kalian, aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai musuh."
Mendengar Chongzhen tidak menganggapnya sebagai musuh, Li Zicheng dan Gu Jun'en sama-sama merasa lega. Kaisar ternyata masih bisa berpikir jernih, para gerombolan militer ini hanyalah orang-orang kasar belaka. Namun, kalimat berikutnya membuat mereka berdua sangat kecewa.
"Karena aku merasa Li Zicheng sama sekali tidak layak menjadi tandinganku. Coba katakan, begitu banyak orang di Shaanxi utara, begitu banyak orang di Tongguan, semuanya telah dikalahkan olehku. Setengah tahun yang lalu di kota Beijing pun kalian menderita kekalahan telak dan pulang dengan mengenaskan. Bagaimana mungkin aku bisa menjadikan orang semacam ini sebagai tandinganku!"
"Chongzhen, jika kau tidak berniat untuk berunding damai, untuk apa kau memanggil kami ke mari? Lebih baik kita langsung mengangkat senjata saja, kematian di medan perang pun tidak akan disesali oleh Wang kami!" kata Gu Jun'en sambil mengibas lengan bajunya dengan penuh amarah.
"Duhai Tuan Sarjana, jangan terburu-buru. Aku sebenarnya tulus ikhlas ingin berunding damai kok," ucap Chongzhen sambil tersenyum menyeringai. "Sekarang aku akan memaparkan isi perundingan damai dariku!"
"Silakan katakan, Kaisar!" kata Li Zicheng dengan wajah tanpa ekspresi.
"Pertama, Li Zicheng beserta seluruh pemberontak di bawah komandonya harus segera takluk dan menyerah kepada Dinasti Ming. Aku mengangkatmu sebagai Panglima Militer Jinzhou."
Syarat pertama sudah begitu kejam. Dari seorang Pangeran Han diturunkan menjadi seorang panglima militer, dan terlebih lagi Panglima Militer Jinzhou yang wilayahnya bahkan belum dikuasai! Ini sama saja menyuruh Li Zicheng pergi ke garis depan untuk bertempur melawan iblis Qing! Chongzhen dan orang-orang lainnya mengira Li Zicheng akan murka.
Namun, Li Zicheng tetap memasang wajah tanpa ekspresi. Menjadi Panglima Militer Jinzhou pun jadilah, toh wilayah Shaanxi sekarang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Menjadi Panglima Militer Jinzhou tidaklah buruk, nanti kalau butuh uang dan makanan, tinggal memberontak lagi pun belum terlambat!
"Kaisar, bolehkah hamba bertanya apa syarat kedua dan ketiga?"
"Tidak ada syarat ketiga, hanya ada dua syarat."
"Silakan katakan, Kaisar!"
"Aku dengar istri pertama dan kedua kalian berdua lari bersama pria lain. Aku rasa istri kalian pastilah wanita-wanita yang sangat cantik. Jadi syarat kedua ini, bawalah istri kalian serta istri dari semua orang yang ada di sini, serahkan semuanya kepadaku untuk dijadikan pelacur militer, agar mereka bisa melayani..."
Chongzhen langsung melontarkan syarat yang paling kejam. Li Zicheng, bukankah kau tahan banting? Orang-orang di sekitarmu pasti tidak semuanya tahan banting sepertimu!
"Betul, betul, serahkan semua istri kalian kepada kami untuk dijadikan pelacur kemah!" Liu Feng, Wang Dahu, dan para prajurit lainnya bersorak dan tertawa gelak.