Volume Pertama Bab Empat Puluh Empat: Mengurusi Kawanan Domba (Bagian Terakhir)
Melakukan begitu banyak persiapan hanya demi berharap proses penangkapan domba ini berjalan lancar, jika tidak, itu tidak akan sebanding dengan usaha selama beberapa hari ini!
Setelah kandang domba selesai dibangun, aksi penangkapan domba pun dapat resmi dimulai. Kode sandi operasi: Daging Domba Begitu Lezat.
Peralatan: dahan pohon, tali, air, keranjang punggung, belati, dan lain-lain. Masih menggunakan strategi seperti sebelumnya, menunggu di dekat tunggul pohon untuk menyergap domba!
Perbedaannya kali ini adalah kelayakan rencana ini telah terbukti sebelumnya, jadi aku merasa sangat percaya diri, hanya saja aku perlu membuat penilaian yang lebih akurat mengenai arah pergerakan mereka.
Suasana hati sebelum berangkat di hari pertama agak terlalu optimis. Setelah menemukan domba-domba itu, barulah kusadari bahwa tingkat kesulitan penangkapannya sepertinya agak tinggi. Di sepanjang jalur pergerakan mereka untuk jarak yang cukup panjang, tidak ada pohon yang cukup tebal dan tinggi untuk kudanjat.
Dengan sabar aku terus membuntuti mereka, berharap mereka memberiku kesempatan. Namun, setelah menunggu selama tiga atau empat jam, alih-alih bergerak, mereka justru mulai berjemur setelah kenyang, yang benar-benar membuatku takjub.
Mengetahui bahwa peluang untuk menyelinap dan menerkam mereka secara diam-diam sangat kecil—hal ini sudah terbukti pada penangkapan domba sebelumnya—setelah menimbang pro dan kontra, demi tidak mengejutkan mangsa, aku terpaksa mengurungkan niat.
Waktu masih panjang, semuanya bisa dilakukan secara perlahan. Terburu-buru dalam banyak hal sama sekali tidak ada gunanya, justru malah akan memperburuk keadaan!
Di hari kedua, terjadilah pemandangan yang sangat kukhawatirkan selama ini. Saat aku menunggu mereka di atas pohon, mereka justru menatapku dari jarak dua puluh atau tiga puluh meter.
Awalnya kusangka mereka tidak menyadariku dan hanya sedang melihat ke tempat lain. Namun, setelah sepuluh detik berlalu, aku bisa memastikan bahwa keberadaanku benar-benar telah tuntas terbongkar!
Situasi ini sungguh canggung. Aku sama sekali tidak meragukan bahwa tatapan yang mereka arahkan padaku saat ini persis seperti melihat orang bodoh!!!
Tentu saja, setelah ketahuan, tidak ada lagi artinya untuk melanjutkan. Aku hanya bisa turun dari pohon lalu pulang dengan kepala tertunduk lesu!
Demi menangkap domba, aku terpaksa harus menelan ludah dan menanggung penghinaan!
Bisa dibilang aku sudah mengerahkan berbagai macam trik, tetapi hasilnya masih belum juga terlihat...
Proses di hari ketiga juga tidak kalah berliku. Belum lama ini, ketersediaan berbagai macam tumbuhan dan rumput liar sangat melimpah, memberi mereka cukup waktu untuk makan sampai kenyang, yang membuat mereka menjadi sangat malas.
Setelah kenyang, mereka mulai malas-malasan dan tidur. Area aktivitas mereka yang sempit membuatku hampir kehilangan kesempatan untuk bertindak. Setelah menunggu selama dua atau tiga jam, barulah mereka mulai bergerak.
Awalnya kusangka aku akan kembali dengan tangan hampa seperti kemarin, tetapi ternyata mereka mulai berjalan menuju ke suatu tempat di kejauhan.
Melihat arah pergerakan mereka, aku berputar melalui jalur samping dan berlari mendahului mereka. Aku menemukan sebuah pohon besar yang rindang, memanjat ke dahan utamanya, dan menunggu kedatangan mereka.
Segala sesuatunya seolah berkembang ke arah yang baik. Mereka memang berjalan menuju arah ini, tetapi tiba-tiba beberapa ekor anak domba berlari ke arah yang lain karena usil, membuatku tertegun di atas dahan pohon.
Usaha seharian kembali sia-sia, padahal aku sudah duduk di atas dahan pohon sambil bermandi keringat!
...
Segala penderitaan dan siksaan akhirnya membuahkan hasil di hari keempat. Selama masa penantianku, mereka melewati pohon tempatku berada sesuai Harapanku dan sama sekali tidak menyadarinya.
Penderitaan ini hampir berakhir... Ada peluang besar!!!
Aku memksa diri untuk tetap tenang, membuat tanganku tidak gemetar dan jantungku tidak berdetak terlalu kencang. Sekali lagi, seperti sebelumnya, aku menjerat leher salah satu dari mereka dengan simpul tali dari atas kepala mereka. Situasinya sebenarnya mirip dengan yang lalu, bedanya adalah...
Dahan pohon di tanganku lepas dari genggaman, terlepas begitu saja!!!
Untuk hal ini, aku benar-benar mengagumi diriku sendiri, bisa-bisanya gagal memegang tali di saat yang begitu penting.
Sekarang bukan saatnya lagi untuk memikirkan hal lain. Tali itu sudah pasti melingkar di leher domba. Aku khawatir lari kencangnya yang liar akan membuat tali dan dahan pohon di belakangnya tersangkut di suatu tempat, yang mungkin justru akan melukai dirinya sendiri.
Domba itu kini sudah berada di dalam genggamanku, dan aku tentu tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Membawa berbagai peralatan, aku segera berlari mengejarnya. Untungnya, beban anak-anak domba yang memperlambat langkah serta hambatan dari tali dan dahan yang menyeret membuat kecepatan seluruh kawanan domba tidak terlalu cepat.
Lima menit kemudian, meskipun kejar-kejaran cepat itu membuatku terengah-engah, aku berhasil menggapai dahan pohon yang diseret. Pemandangan saat itu persis seperti sedang memancing, bedanya yang berada di ujung sana adalah seekor domba dewasa.
Demi menyelesaikan urusan dengan cepat agar tidak mencekiknya hingga mati, aku harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik dahan dan tali tersebut, sementara kakiku terus melangkah mendekatinya, hingga satu menit kemudian aku berhasil mengikatnya dengan kuat pada sebatang pohon.
Menangkapnya bukan berarti misi telah usai. Aku juga berniat untuk sekalian menangkap anak-anak domba tersebut. Karena ketiga anak domba itu baru berusia satu atau dua bulan dan domba besar saja bisa tertangkap, kupikir menangkap tiga ekor anak domba seharusnya semudah membalikkan telapak tangan!
Waktu dari menjerat domba pertama hingga mengikatnya di pohon tidaklah lama, tetapi gerakan yang intens itu membuat tubuhku dipenuhi keringat, dan ada dua bagian tubuhku yang tergores duri hingga berdarah. Namun, semua itu sama sekali tidak memengaruhi langkahku selanjutnya.
Setelah menguras banyak tenaga, langkahku menjadi semakin lambat saat melakukan pengejaran berikutnya, tetapi jarakku dengan anak-anak domba itu terus menyusut. Tampaknya harapan masih sangat besar!
Sepuluh menit kemudian, aku berhasil menyusul mereka dan menerkam, bagaikan seekor elang yang menyambar anak ayam.
Anak-anak domba itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan, sementara domba dewasa hanya bisa dilanda kepanikan tanpa melancarkan serangan. Ini adalah poin yang patut disyukuri, karena sebenarnya aku sangat takut jika mereka menghantamku dengan hantaman keras itu!
Hasil akhirnya sudah ditakdirkan. Meskipun aku tidak berdaya menghadapi ketiga domba dewasa, ketiga anak domba itu semuanya jatuh ke dalam cengkeramanku.
Bisa dibilang hasil tangkapan hari ini sangat luar biasa. Menangkap empat ekor domba sekaligus pastilah menjadi hari yang paling produktif dan membuahkan hasil terbesar sejak aku berada di pulau ini!
Ini mungkin juga menjadi saat-saat paling melelahkan dalam waktu singkat sejak menginjakkan kaki di pulau ini. Keringat yang membanjiri wajah bahkan membuatku kesulitan melihat jalan. Setelah menyekanya dengan tangan, hanya dalam dua atau tiga menit wajahku sudah kembali dibanjiri keringat. Untungnya, berhasil menangkap anak-anak domba berarti misi telah selesai, dan aku bisa beristirahat dengan tenang!
...
Ketiga anak domba itu semuanya dekap dalam pelukan, masing-masing dengan berat hampir lima kati.
Melihat semuanya berada di dalam genggamanku membuatku sangat bahagia, hanya saja tubuhku sedikit protes. Bukan hanya karena bau badan mereka yang kurang sedap, tetapi mendekap mereka rasanya seperti memeluk tiga buah tungku api yang membuat tubuh semakin gerah.
Kembali dengan cepat ke tempat domba dewasa diikat, aku memasukkan ketiga anak domba itu ke dalam keranjang punggung, lalu menyisipkan sebatang kayu secara melintang di bagian mulut keranjang untuk menutupnya agar mereka tidak melompat keluar.
Tugas tahap ini telah selesai. Mengenai tiga ekor domba dewasa yang tersisa, aku masih menimbang-nimbang apakah akan terus memburu mereka atau cukup puas dengan keempat ekor ini saja!
Perjalanan pulang akhirnya tidak lagi terasa begitu gerah. Setelah mengikat domba dewasa ke dalam kandang, ketiga anak domba itu juga masing-masing diikat dengan tali, karena aku masih khawatir mereka akan kabur melalui celah-celah kandang.
Terkadang, kebetulan dan kejutan memang tidak pernah kurang. Perkembangan selanjutnya jauh melampaui perkiraan. Saat aku baru saja selesai mengikat domba dewasa dan anak domba dengan aman, ketiga domba dewasa di luar sana justru mengikuti hingga berjarak puluhan meter dan memandang ke arah sini dari kejauhan.
Tindakan mereka ini sungguh sangat mengejutkan sekaligus menyenangkan bagiku. Kurasa ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan di sini; jika diatur dengan baik, bukan tidak mungkin hari ini aku bisa memborong semuanya sekaligus!
Selanjutnya, aku mengikat beberapa ekor domba di dalam kandang pada posisi yang sangat dekat dengan pintu. Tujuannya sangat jelas dan terang-terangan, yaitu berniat menggunakan suara panggilan domba agar domba-domba di luar mendekat ke arah mereka. Jika mereka bisa masuk sendiri ke dalam kandang, maka rencana licikku ini akan berhasil!
Pintu kandang telah dibuka lebar-lebar, dan selanjutnya tinggal melihat reaksi seperti apa yang akan mereka tunjukkan.
Aku keluar dari kandang domba dan bersembunyi di ladang jagung di dekatnya untuk mengamati pergerakan lanjutan mereka secara diam-diam. Apakah akan berhasil atau tidak, aku belum tahu, tetapi ada peluang lebih dari tiga puluh persen mereka akan datang.
Menunggu selalu terasa panjang. Sepuluh menit kemudian, setelah ketiga domba dewasa itu lama tidak menemukan sosokku dan merasa bahaya telah mereda, mereka mulai merasa santai.
Meskipun langkah mereka masih cukup berhati-hati dan terus mengamati sekeliling setiap kali melangkah dua kali, aku merasa kesuksesan sudah di depan mata, dan hatiku sudah berbunga-bunga karena gembira!
Demi mencegah kegagalan di ambang pintu akibat kecerobohan yang membongkar penyamaranku, aku hanya bisa bersembunyi lebih rapat di dalam ladang jagung. Pada saat seperti ini, rasa penasaran yang terlalu besar hanya akan mendatangkan kegagalan, dan kerugiannya tentu akan sangat besar.
Menggunakan anak domba sebagai umpan memang terbukti sangat ampuh. Karena itu, baik manusia maupun hewan, kasih sayang seorang ibu adalah hal yang agung!
Sepuluh menit kemudian, setelah aku menunggu dengan perasaan cemas selama setengah jam hingga rasanya tubuhku hampir terpanggang hingga berminyak, mereka akhirnya benar-benar memasuki kandang domba sesuai perkiraan.
Ekspresi pertama yang bisa terlihat adalah mulutku yang terbuka lebar hingga hampir mencapai telinga, menunjukkan betapa bahagianya hatiku. Tentu saja, gerakannya tidak berhenti; aku langsung merangkak maju menuju kandang domba.
Hingga akhirnya, ketika jarak tinggal enyamping atau tujuh meter dari pintu kandang, aku melompat maju dalam sekali dorong dan langsung menutup pintunya!
Hahaha... Aku berhasil!!!
Ketujuh ekor domba berhasil terkurung di dalam kandang, dan aku tidak perlu lagi menangkap domba!
Kawanan domba merasa sangat gelisah begitu menyadari kemunculanku di ambang pintu, mondar-mandir di dalam dengan sikap yang sangat tidak sabaran. Pada saat seperti ini, menenangkan mereka adalah hal yang sangat penting. Memberikan sesuatu untuk dikunyah di mulut mereka seharusnya bisa meredakan kepanikan di dalam hati mereka.
Sejujurnya, aku sudah sangat malas bergerak. Menangkap domba telah membuat tubuhku sangat kelelahan, tetapi jika tidak bergerak, tidak ada cara lain.
Setelah memetik belasan sayuran hijau dari ladang dan melemparkannya ke dalam untuk mereka, aku melangkah maju untuk melepaskan tali pada anak-anak domba dan domba dewasa yang terjerat. Semua domba dewasa sudah berada di dalam, jadi aku tidak perlu khawatir anak-anak domba itu akan kabur.
Metode mencaplok semuanya sekaligus ini terasa agak ajaib. Sebelum dimulai, aku sama sekali tidak menyangka akan berakhir dengan cara seperti ini.
Hal terakhir yang perlu ditekankan adalah bahwa kini, asalkan aku mau, aku bisa memakan daging domba kapan pun dan di mana pun aku suka. Ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan di awal kedatanganku ke pulau ini!
Di dalam kawanan domba terdapat total empat ekor domba dewasa—dua jantan dan dua betina—serta tiga ekor anak domba—satu jantan dan dua betina. Sebenarnya, isi hatiku sangat ingin segera menyembelih seekor domba jantan demi memuaskan hasrat makan dagingku, karena persediaan daging domba di rumah sudah lama habis.
Namun, memikirkan kelangsungan populasi di masa depan, aku akhirnya memutuskan untuk menghemat persediaan untuk jangka panjang dan menahannya untuk beberapa waktu ke depan. Pertama-tama, aku akan berusaha memperbesar skala kawanan domba ini semaksimal mungkin. Target jumlahku adalah minimal tidak kurang dari 10 ekor, dan maksimal tidak lebih dari 15 ekor.
Setiap pengurangan jumlah dari beberapa ekor ini akan memengaruhi perkembangan populasi, terutama dalam situasi saat ini di mana hanya ada empat ekor domba dewasa. Mengambil tindakan apa pun terhadap salah satu dari mereka menuntut kehati-hatian yang sangat tinggi.
Namun, jika jumlahnya melebihi 15 ekor, aku merasa hal itu akan menyita terlalu banyak waktu dan secara tidak langsung menjadikanku budak yang bekerja untuk domba setiap hari, selain fakta bahwa tidak akan ada cukup banyak pakan rumput untuk memberi mereka makan. Oleh karena itu, jumlahnya akan dikendalikan dalam kisaran yang wajar.
Saat ini, sayuran hijau tumbuh dengan subur, ditambah dengan menyabit sedikit rumput hijau untuk pakan, itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan ketujuh ekor domba tersebut.
Domba sendiri tidak terlalu pilih-pilih makanan; banyak jenis tumbuhan yang menjadi alternatif makanannya. Inilah juga yang memberiku keberanian untuk pergi dan menangkap mereka untuk dibawa pulang.
Tentu saja, memelihara ternak tentu bukan hanya soal masalah pakan saja, masalah air minum dan kotoran mereka juga harus diselesaikan.
Terkadang, jika dipikir-pikir lagi, ini terasa seperti sebuah beban, yang telah menjadi rutinitas sehari-hari seperti halnya makan dan tidur. Namun, demi stabilitas pasokan daging, aku harus bersabar!
Masalah air diatasi langsung menggunakan wadah tembikar. Untuk mencegah wadah tembikar itu ditendang oleh domba, aku menambahkan air beberapa kali sehari, dan bahkan menggali sebuah lubang kecil berkedalaman 10 sentimeter dengan diameter 20 sentimeter di tanah, lalu membenamkan bagian bawah wadah tembikar ke dalamnya agar berdiri dengan kokoh.
Memikirkan berbagai hal secara matang di awal agar tidak harus selalu membereskan kekacauan di kemudian hari—aku sama sekali tidak ingin membuang terlalu banyak waktu untuk urusan domba, karena tekanan untuk bertahan hidup masih sangat besar!
Prosesnya memakan waktu setengah bulan secara keseluruhan, dan urusan domba akhirnya terselesaikan sepenuhnya. Puji Tuhan, prosesnya bahkan jauh lebih lancar dari yang kubayangkan!