Bab Seratus Tiga Puluh Tujuh: Menyerahkan dengan Kedua Tangan
A-Ying dan kedua rekannya membuntuti Yu-Huo memasuki gua gelap. Sepanjang perjalanan, mereka bertiga tidak berani lengah sedikit pun, karena mereka tidak mungkin bisa memercayai kaki tangan andalan Leluhur Hantu Wan-Xie ini sepenuhnya, apalagi memercayai Leluhur Hantu Wan-Xie itu sendiri. Namun, jalan yang ditunjukkan Yu-Huo memang lubang gua pertama di sisi kiri, sesuai dengan keterangan Raja Penyihir Penempa Senjata.
Yu-Huo terkekeh, "Aku tahu kalian masih khawatir, tenang saja, aku tidak akan mencelakai kalian! Kali ini, benar-benar Ketua yang mengundang kalian."
Situ Che menjawab dengan suara dingin, "Kami memang tidak bisa menebak muslihat apa yang kalian rencanakan, tapi mustahil jika Ketua kalian ingin mengembalikan barang milik A-Ying dengan sukarela, bukan?"
Yu-Huo menoleh ke arah Situ Che, kembali memasang senyum licik, "Itu belum tentu!"
A-Man juga tidak percaya, "Terakhir kali, bukankah Ketua Hantu kalian yang membuat Kakak terluka parah? Mana mungkin dia sebaik itu?"
Setelah beberapa saat, ketiganya akhirnya tiba di sebuah gua batu yang luas, tempat kediaman tetap Leluhur Hantu Wan-Xie. Saat ini, Leluhur Hantu Wan-Xie kembali mengenakan jubah hitam lebar untuk menutupi tubuh mungil dan wajahnya. Selain Leluhur Hantu Wan-Xie yang duduk bersila di atas dipan batu, Ji Wu-Hen dan Bing-Kui juga berada di dalam gua untuk "menyambut" kedatangan mereka.
"Hehehe, Ketua, mereka sudah datang," lapor Yu-Huo singkat, lalu kembali ke samping Ji Wu-Hen dan Bing-Kui.
Leluhur Hantu Wan-Xie berdiri dengan tiba-tiba, aura jahat meluap dari balik jubah hitamnya. "Nona, apa kabar?" sapa sang Leluhur dengan suara kering dan parau yang keluar dari balik jubah.
A-Ying melangkah maju, lalu berkata dengan dingin, "Barangku."
"Nona, setelah pertarungan di Jurang Kekacauan waktu itu, apakah tubuhmu sudah pulih sepenuhnya?"
A-Ying mengulangi, "Barangku."
"Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa itu memang barang milik Nona, hanya saja tiga ratus tahun lalu direbut oleh pendahulu Sekte Hantu kami. Sekarang, pemiliknya datang untuk menagih, maka sudah sepatutnya aku mengembalikan barang itu kepada pemilik aslinya."
Nada bicara Situ Che dipenuhi keraguan dan kewaspadaan, "Orang tua, mana mungkin kau sebaik itu?"
Leluhur Hantu Wan-Xie tertawa terbahak-bahak, lalu mengeluarkan sebuah butiran mutiara yang memancarkan cahaya hijau pucat dari tangannya, "Sejak pertarungan dengan Nona di wilayah paling utara dulu, mutiara ini meredupkan cahayanya dan tidak bisa kugunakan. Hanya setelah Nona memasuki Gua Bai-You hari ini, mutiara ini seolah merasakan kehadiran pemiliknya dan kembali bersinar."
A-Ying akhirnya melihat wujud asli Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa. Setelah tiga ratus tahun, mereka saling mengenali dan berinteraksi seperti sahabat lama, berusaha menemukan kembali perasaan yang familier itu.
A-Ying tiba-tiba mengulurkan tangan dan berkata dengan suara jernih, "Berikan padaku."
Leluhur Hantu Wan-Xie menatap A-Ying dalam diam. Sesaat kemudian, ia tertawa singkat seraya menyodorkan mutiara tersebut, "Jika kau menginginkannya, kemarilah dan ambil sendiri."
Suasana di dalam gua mendadak tegang. Namun, yang paling tegang bukanlah A-Ying atau Leluhur Hantu Wan-Xie, melainkan Situ Che, A-Man, Ji Wu-Hen, dan yang lainnya.
Melihat A-Ying hendak bergerak, Situ Che segera menahan lengannya dengan ekspresi cemas, "A-Ying, jangan pernah mendekat, ini pasti jebakan orang tua itu!"
A-Man mendelik ke arah jubah hitam Leluhur Hantu Wan-Xie, lalu menimpali, "Benar, Kak. Dia pasti sedang merencanakan tipu daya, jangan percaya padanya!"
"Itu, barangku. Aku akan mengambilnya." A-Ying menyampaikan keinginannya dengan singkat dan jelas kepada Situ Che dan A-Man, menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang harus ia lakukan tanpa alasan untuk mundur.
Cengkeraman tangan Situ Che melonggar, namun ia tetap berpesan dengan suara berat yang penuh kekhawatiran, "Kalau begitu, kau harus berhati-hati..."
Tatapan orang-orang di dalam gua tertuju tajam pada A-Ying yang melangkah perlahan mendekati Leluhur Hantu Wan-Xie dan Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa. Mereka terdiam.
Seiring jarak A-Ying dan mutiara itu semakin dekat, cahaya di tangan Leluhur Hantu Wan-Xie kian menyala terang. Pada akhirnya, seolah ada sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun, kini bangkit sepenuhnya. Cahaya hijau dari Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa meledak seketika, bagaikan air bah yang menenggelamkan seluruh ruang!
A-Man, Situ Che, Ji Wu-Hen, bahkan kedua hantu lainnya merasa mata mereka perih disengat cahaya hijau yang tiba-tiba membuncah. Mereka hanya bisa melihat sosok ramping itu masih melangkah masuk ke dalam cahaya, hingga akhirnya benar-benar tertelan olehnya.
Di balik cahaya yang tak terjangkau pandangan mata orang lain, tepat saat A-Ying hendak menerima mutiara itu, suara kering yang penuh pesona membisikkan, "Nona, ini kuberikan padamu."
A-Ying benar-benar mendapatkan Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa itu dari tangan Leluhur Hantu Wan-Xie—benda sakti yang hilang selama tiga ratus tahun. Namun, sebelum A-Ying sempat bereaksi, Leluhur Hantu Wan-Xie dengan tangkas mencengkeram pergelangan tangannya. Tubuh A-Ying pun tertarik mendekat ke arahnya.
Hanya dalam sekejap, Leluhur Hantu Wan-Xie mencekik leher A-Ying, lalu menghantamkan telapak tangannya dengan keras ke arah punggung A-Ying! Tentu saja semua ini terjadi di dalam kilauan cahaya yang menyilaukan; selain A-Ying dan Leluhur Hantu Wan-Xie, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Situ Che dan A-Man hanya melihat A-Ying seolah terlempar keluar dari cahaya tersebut, mereka segera berlari menghampirinya. Tak lama kemudian, cahaya Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa mulai meredup dan kembali tenang.
Situ Che membentak Leluhur Hantu Wan-Xie dengan marah, "Orang tua, apa yang sebenarnya kau lakukan pada A-Ying?"
Leluhur Hantu Wan-Xie menjawab dengan nada polos, "Aku hanya mengembalikan barang itu kepada pemilik aslinya, itu saja."
"Kak, bagaimana keadaanmu?" tanya A-Man dengan cemas.
A-Ying terkena hantaman telapak tangan Leluhur Hantu Wan-Xie. Kekuatannya tidak ringan, namun tidak menggunakan energi dalam apa pun. Selain rasa nyeri dan kesemutan di punggung, tidak ada keluhan lain. Ia segera menjawab, "A-Man, aku tidak apa-apa."
A-Man menatap Leluhur Hantu Wan-Xie yang terbungkus jubah hitam, ia menggaruk kepalanya karena bingung harus berkata apa.
Situ Che menangkupkan tangan dengan tegas, "Orang tua, karena barang A-Ying sudah dikembalikan, kami tidak akan mengganggu lagi. Permisi!"
Situ Che mengajak A-Ying pergi tanpa membuang waktu sedikit pun. Namun, saat hendak beranjak, A-Ying secara tak terduga menoleh dan menatap tajam ke belakang.
Begitu ketiganya pergi, Ji Wu-Hen tidak bisa menahan diri untuk bertanya dengan suara berat, "Guru, murid tidak mengerti maksud Anda, mengapa melakukan hal itu?"
Bing-Kui pun tampak ingin bicara, "Ketua..."
Suara Leluhur Hantu Wan-Xie terdengar sarat dengan kepahitan, "Yang kumiliki hanyalah seekor belut. Saat aku melemparkannya ke dalam air, maka aku akan mendapatkan seekor ikan..."
...
A-Ying, A-Man, dan Situ Che buru-buru meninggalkan Gua Bai-You, terbang melintasi beberapa hutan sebelum memutuskan untuk beristirahat.
"Tak disangka kita mendapatkan barang yang diinginkan Kakak semudah ini, ternyata Leluhur Hantu Wan-Xie itu tidak terlalu jahat juga!" ucap A-Man yang baru saja mendarat, merasa lega.
Situ Che berkata, "A-Man, jangan sampai kau tertipu olehnya. Leluhur Hantu Wan-Xie itu sebenarnya penuh dengan kelicikan, hanya saja kali ini perilakunya tidak seperti biasanya!"
"Aku tahu, pasti karena dia tahu kehebatan Kakak dan takut Kakak akan mengamuk lalu meratakan guanya hingga rata dengan tanah!"
Situ Che tidak meladeni A-Man lagi, ia menghampiri A-Ying, "A-Ying, Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa ini..."
A-Ying duduk bersila, memejamkan mata dengan posisi tangan yang terbuka ke langit. Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa yang melayang di depannya mulai berubah. Cahaya hijau yang dipancarkan mutiara itu mulai menebal. Benang-benang cahaya hijau perlahan menyelimuti tubuh A-Ying, namun lebih banyak lagi yang mengalir menuju titik di antara kedua alisnya!
Seiring semakin banyaknya cahaya hijau yang masuk ke dalam tubuh A-Ying, Mutiara Reinkarnasi Seratus Jiwa akhirnya menghilang tanpa bekas. Namun, A-Ying merasa banyak hal tiba-tiba membanjiri otaknya, membuatnya sesak napas dan berkeringat dingin.
Banyak gambaran melintas dengan cepat di benaknya, yang paling sering berulang adalah pemandangan lautan darah dan mayat di tengah kegelapan malam, serta sosok beberapa orang kejam yang memegang pedang sedang membantai tanpa ampun!
A-Ying tersiksa oleh memori yang tiba-tiba masuk itu, ia tersentak bangun dengan keringat membasahi pakaiannya.
Situ Che melihat keanehan pada dirinya, wajahnya tampak pucat, ia bertanya dengan cemas, "A-Ying, A-Ying, kau tidak apa-apa?"
A-Ying menggeleng, memaksakan diri untuk berdiri. Setelah terdiam sejenak, ia akhirnya berkata, "A-Man, Kak Situ, karena barang dari Sekte Hantu sudah kudapatkan, selanjutnya aku harus mencari tahu siapa orang yang selalu menjebakku, hanya saja aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Situ Che meletakkan kedua tangannya di bahu A-Ying, lalu tersenyum tipis. Jika itu wanita biasa, mungkin sudah hatinya sudah luluh. Namun, A-Ying justru merasa tidak terbiasa dengan tindakan Situ Che tersebut.
"Lihat dirimu, keringat bercucuran tapi masih bilang tidak apa-apa. Kita baru saja keluar dari sarang hantu, besok istirahatlah sehari, aku dan A-Man akan menemanimu mencari orang yang menjebakmu." Senyum tipis Situ Che secara alami memberikan kenyamanan seperti hembusan angin musim semi, namun ia tetap tidak mampu mencairkan gunung es di hadapannya. Meski begitu, ia tidak pernah lelah, ingin mengisi kekosongan ingatan seseorang dengan kenangan yang indah.