Bab 93: Pertemuan Kembali di Chen Zhou
Bebatuan di sepanjang tepi jalan setapak itu tampak bersih dan rapi, membentuk jalur yang mengarah ke dalam pegunungan. Sinar matahari menembus sela-sela dedaunan, menciptakan bayangan kehijauan samar di tanah. Di kejauhan, dapat terlihat sebuah jembatan kayu kecil menyeberangi sungai dangkal, hanya cukup untuk dilewati dua orang berdampingan. Di kedua sisi jembatan, bunga liar bermekaran, menebarkan aroma harum yang lembut, sementara di jalan setapak di depan, dedaunan pohon membentuk kanopi yang meneduhkan, membuat suasana di sini terasa sejuk dan damai, seolah-olah jauh dari hiruk-pikuk dunia luar, hanya meninggalkan kedamaian yang menyelimuti hati.
Jalan setapak yang panjang ini berakhir di depan sebuah kuil kuno.
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali membangun kuil ini di pegunungan. Menurut cerita yang diwariskan, kuil ini dibangun oleh seorang biksu muda berwajah rupawan yang, setelah bertapa di gunung ini selama bertahun-tahun, akhirnya menemukan pencerahan dan membangun kuil sebagai wujud persembahan.
Kuil itu sederhana, hanya terdiri dari beberapa ruangan yang dindingnya terbuat dari batu dan tanah, atapnya dari jerami. Karena letaknya yang terpencil di pegunungan, hampir tidak ada yang datang untuk berziarah. Konon biksu muda itu bukan hanya ingin mencari ketenangan, tetapi juga melarikan diri dari kejaran duniawi. Ada yang mengatakan dia pernah menjadi bangsawan, ada pula yang berkata dia sebetulnya adalah seorang putra mahkota. Namun apa pun kisahnya, semua sepakat bahwa ia telah meninggalkan dunia fana dan memilih tinggal di gunung ini.
Biksu muda itu jarang berbicara, dan wajahnya selalu tenang dan teduh. Orang-orang tidak tahu nama aslinya, hanya memanggilnya "Guru Kuil Gunung". Ketika ada yang bertanya tentang masa lalunya, beliau hanya tersenyum samar, mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Kadang, saat seseorang memaksa bertanya, beliau hanya menjawab dengan lembut, "Segala sesuatu di dunia ini seperti air mengalir, tak perlu diketahui dari mana asalnya, cukup jalani saja di mana ia berada sekarang."
Biksu muda itu selalu mengenakan jubah abu-abu yang sederhana. Tatapannya dalam dan penuh makna, seakan mampu melihat tembus ke dalam hati setiap orang. Namun, ia tak pernah menyinggung urusan orang lain. Banyak peziarah yang datang bertanya padanya, berharap mendapatkan pencerahan, namun beliau hanya mendengarkan dengan tenang, memberi satu atau dua kalimat petunjuk sebelum kembali ke ruangannya. Ada sebagian orang yang merasa mendapat pencerahan, namun ada juga yang merasa kebingungan.
Kuil kecil ini tidak memiliki kekayaan, hanya mengandalkan hasil panen sendiri dan sumbangan dari para peziarah. Terkadang, biksu muda itu akan naik ke gunung untuk memetik bunga liar, atau pergi ke sungai untuk mengambil air. Kadang, ia duduk di bawah pohon besar di depan kuil, menatap langit biru yang tak bertepi.
Pada awal musim panas, pegunungan dipenuhi suara burung dan aroma rumput segar. Matahari pagi menyinari atap jerami kuil, menebarkan cahaya keemasan. Biksu muda itu keluar dari kuil, membawa keranjang bambu di pundaknya, berjalan menaiki jalan setapak menuju hutan bambu di belakang kuil. Hari itu, ia bermaksud mencari beberapa bahan obat untuk persediaan musim panas.
Jalan setapak di belakang kuil cukup curam, namun biksu muda itu berjalan perlahan, penuh ketenangan. Daun bambu melambai-lambai tertiup angin, menebarkan suara gemerisik yang menenangkan. Ia berjalan menembus hutan bambu, hingga tiba di sebuah tanah lapang yang dipenuhi tanaman obat liar. Di sanalah, ia mulai memetik daun dan akar, dengan gerakan yang hati-hati dan penuh perhatian.
Tiba-tiba, di ujung tanah lapang, terdengar suara langkah kaki yang lembut. Biksu muda itu berhenti, menoleh perlahan, dan melihat seorang perempuan muda berdiri di antara bayang-bayang pohon. Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana, wajahnya cantik namun tampak lelah. Ia menatap biksu muda itu sejenak, lalu tersenyum malu-malu, seolah ingin berbicara tapi ragu untuk membuka suara.
Biksu muda itu tidak mengusirnya, hanya membungkuk ringan sebagai salam, lalu kembali memetik tanaman obat. Perempuan itu pun perlahan mendekat, duduk bersila di tepi lapangan, diam-diam memperhatikan biksu muda itu bekerja.
Matahari semakin tinggi, cahaya menembus celah-celah dedaunan, menari-nari di tanah seperti permata. Suasana di sekitar hening dan damai, hanya terdengar suara burung dan angin yang berbisik. Setelah beberapa lama, perempuan itu akhirnya memberanikan diri bertanya, "Guru, bolehkah aku tinggal di sini untuk sementara waktu?"
Biksu muda itu berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan, "Jika kau tidak keberatan dengan kesederhanaan tempat ini, kau boleh tinggal di sini."
Perempuan itu tersenyum lega, lalu membungkuk dalam-dalam untuk berterima kasih.
Hari-hari berikutnya, perempuan itu membantu biksu muda menjaga kuil, membersihkan halaman, menanam sayuran, dan merawat bunga-bunga liar di sekitar kuil. Ia belajar menyiapkan makanan sederhana, dan sesekali duduk di bawah pohon besar bersama biksu muda, mendengarkan petuah-petuahnya tentang kehidupan.
Musim panas berlalu dengan tenang, meninggalkan kenangan yang indah di antara mereka. Namun, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir, waktu pun terus berjalan. Perempuan itu akhirnya sadar bahwa ia tak bisa selamanya tinggal di kuil itu. Pada suatu pagi yang cerah, saat embun masih menempel di dedaunan, ia berpamitan kepada biksu muda itu.
"Terima kasih atas semua kebaikanmu, Guru," katanya dengan suara lirih, matanya memancarkan kesedihan yang dalam.
Biksu muda itu mengangguk, tatapannya tetap tenang. "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Jalanilah hidupmu dengan penuh keberanian, dan jangan lupa untuk selalu menjaga ketenangan hati."
Perempuan itu menahan air mata, lalu perlahan berjalan menuruni jalan setapak, meninggalkan kuil kecil di pegunungan itu. Biksu muda itu berdiri di bawah pohon, menatap kepergiannya hingga sosoknya menghilang di balik pepohonan.
Dalam hidup ini, banyak hal yang datang dan pergi seperti angin. Namun, kenangan akan kebersamaan di kuil kecil itu akan selalu abadi, tersembunyi di sudut hati masing-masing, seperti cahaya lembut yang menembus dedaunan, memberikan kehangatan dan penghiburan di tengah kesunyian pegunungan.