Bab Dua Puluh Dua: Tanda Persahabatan dari Duo Korban Amarah
Di dalam lobi utama Hotel Restu Agung, Wang Ming menatap dua orang di depannya yang tampak lemas tak bertenaga, hampir saja ia tak kuasa menahan tawa. Meski sebelumnya ia sudah mengingatkan mereka agar menjaga ritme saat pertama kali berolahraga, mengingat waktu istirahat siang sangat terbatas dan harus menyisakan waktu untuk mengembalikan energi, namun sensasi menyenangkan dari pengalaman pertama berolahraga rupanya membuat kedua temannya itu tak terlalu memedulikan nasihatnya. Akibatnya, saat Wang Ming terbangun dari istirahat dan melihat keduanya terengah-engah di hadapannya, ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah.
Cuaca hari itu memang sangat panas. Keluar dari ruang kebugaran dan meninggalkan sejuknya pendingin ruangan, meski suhu di luar membara, sepanjang perjalanan pulang ke hotel wajah kedua temannya tetap penuh semangat. Namun, begitu rasa rileks menyeruak, tubuh mereka langsung diserang lemas tiada daya, hingga kini ketika duduk di depan Wang Ming, keduanya terlihat benar-benar kacau.
Jam masuk kerja sudah hampir tiba. Para pelayan yang beristirahat di berbagai sudut lobi pun mulai terbangun, sibuk merapikan kursi yang miring dan menata ulang peralatan makan di atas meja.
Wang Ming melirik jam tangan bekas yang ia beli di pasar loak dekat jalan pejalan kaki. Waktu menunjukan kurang dari lima menit lagi sebelum jam kerja dimulai. Ia pun meregangkan badan, merasakan pegal di sekujur tubuh, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
Suara peralatan makan yang ditata dan kursi yang digeser di lobi, membuat Zhong Ge dan San Pang yang masih setengah sadar itu membuka mata, menampakkan raut putus asa. Melihat rekan-rekan lain mulai bersiap-siap, wajah mereka menampakkan kegetiran. Saling berpandangan, keduanya serempak mengeluh, perlahan bangkit berdiri sambil berpegangan pada meja.
"Kalian berdua, cepatlah sedikit, sebentar lagi masih harus mengepel lantai," tegur seorang pelayan yang membawa peralatan makan. Kedua orang itu tertegun sejenak, lalu tatapan Zhong Ge yang mengarah ke Xue Lan tiba-tiba berbinar, tubuhnya seketika bersemangat, menarik si gendut kecil menjauh dari tempat itu.
Wang Ming tertawa melihat perubahan mendadak pada Zhong Ge. Ia sendiri masih merasakan pegal, namun melihat semua orang sudah berdiri, Wang Ming pun perlahan berdiri dan bertukar senyum dengan Xue Lan yang menatap ke arahnya.
Karena saat makan siang semua duduk bersama dan Wang Ming pergi lebih awal, baru sekarang ia sadar, bahwa selain berkepribadian ceria dan wajahnya menawan, hal yang paling mencolok dari Xue Lan adalah pinggangnya yang sangat ramping, membuat seluruh auranya terlihat berbeda.
"Kalian ini, sudah jam berapa masih keluyuran di lobi? Wang Ming, semuanya sudah siap? Tidak tahu jam berapa harus mulai kerja?" Baru saja Wang Ming mengalihkan pandangan, suara kepala dapur dari balik pintu dapur terdengar tidak senang, menegur mereka dengan lantang. Melihat itu, San Pang langsung siaga, menarik Zhong Ge menuju dapur dan ketika melintas di depan Wang Ming, mereka terus memberi kode agar Wang Ming tidak banyak bicara dan segera masuk.
Wang Ming terdiam sejenak, lalu melangkah perlahan masuk ke dapur. Saat menghadapi tatapan tajam kepala dapur, Wang Ming memilih untuk mengabaikannya, berjalan menuju posisinya dan berbenah sebentar. Baru setelah itu, para karyawan lain pun mulai masuk ke dapur.
Wang Ming tahu bahwa kepala dapur memang sengaja mempersulitnya. Meski ia belum tahu persis alasannya, namun saat ini ia tak punya waktu untuk meladeni permainan itu. Asal tidak mengganggu upayanya menguasai keahlian dapur dan mengumpulkan modal awal, wajah masam kepala dapur tak akan ia gubris.
"Lakukan saja pekerjaan utamamu, tak usah cari perkara denganmu, aku tidak percaya, apalagi yang bisa kau lakukan," gumam Wang Ming dalam hati. Pekerjaan yang harus ia lakukan sudah selesai sebelum jam makan siang. Saat berdiri di depan dapur, Wang Ming bahkan bingung harus melakukan apa lagi, hingga akhirnya ia melirik ke arah Zhong Ge dan San Pang.
"Aku sudah hampir selesai, kalian butuh bantuan motong bahan? Aku bisa bantu, kok," tawar Wang Ming. San Pang, yang berdiri di samping alat pengukus sambil berusaha tetap terjaga, melirik bahan makanan yang tinggal sedikit, ragu-ragu hendak berkata sesuatu, namun begitu bertemu pandang dengan kepala dapur, kata-kata yang hampir keluar itu langsung ditelannya kembali. Wang Ming melihat itu, hanya mengalihkan pandangan dan jelas menangkap raut malu di wajah San Pang.
"Aih, si San Pang ini memang terlalu penurut." Meski dulu pernah dijebak kepala dapur hingga turun posisi dari dapur besar ke bagian persiapan, walau gaji tetap, ia kehilangan peluang untuk naik jabatan. Namun, sifat penurut dan pemalu San Pang, mungkin karena ingin mempertahankan pekerjaan yang susah didapat, membuatnya terus menahan diri.
Wang Ming sadar, dalam masalah seperti ini, hanya diri sendiri yang bisa membela. Ia percaya, setiap orang punya batas kesabaran. Jika suatu hari penindasan ini melewati batas toleransi San Pang, ledakan amarahnya pasti akan membuat semua orang terkejut.
Adapun Zhong Ge, yang selama ini cukup akrab dengannya, hanya menghela napas, mengagumi tingkat kesabaran San Pang. Ketahanannya bahkan melebihi kura-kura ninja sekalipun.
"Kau terus saja begini, aku ingin tahu sampai kapan kau bisa jadi kura-kura," gerutu Zhong Ge, melotot kesal pada San Pang. Ia mengambil beberapa bawang dan jahe, lalu berjalan ke arah Wang Ming sambil menunjukkan senyum canggung.
"Seluruh badan pegal, makasih ya," ujar Zhong Ge. Setelah Wang Ming bercanda, ia kembali ke posisinya. Saat itu kepala dapur yang memandang gelap ke arahnya, langsung diabaikannya.
Meski sifatnya juga cenderung penurut, Zhong Ge tetap punya harga diri. Ia tak suka cari musuh, tapi juga tak membiarkan orang lain mengatur urusan pribadinya.
Wang Ming paham betul akan hal ini. Ia menarik napas dalam-dalam, wajahnya tetap tenang, fokus mengolah bahan makanan di tangan.
"Nampaknya kau cukup santai, sampai bisa bantu-bantu orang lain. Kalau memang mau kerja..." Kepala dapur mengalihkan pandangan tajamnya dari Zhong Ge, lalu berjalan perlahan dan berhenti di samping Wang Ming. Dengan suara yang terdengar santai namun menyiratkan ejekan, ia kembali berkata, "Zheng kecil, mulai besok, atur ulang pembagian tugas di bagian belakang. Akan ada menu baru, beri Wang Ming lebih banyak kesempatan berlatih pisau, bagaimana?"
Tatapan kepala dapur kini mengarah ke Zheng kecil yang terlihat agak tak nyaman. Jelas sekali ini upaya menekan sekaligus mengadu domba, namun Zheng kecil memilih untuk tidak ikut campur, karena meski sikap kepala dapur agak keterlaluan, ia masih sesuai aturan. Saat Zheng kecil tak bisa membantah, Wang Ming yang diam-diam telah selesai memotong daun bawang, mengangkat kepala dan menatap kepala dapur.
Wajahnya tetap datar, tak menampakkan emosi apa pun, membuat suasana sempat menegang. Namun, Wang Ming mendadak tersenyum, membuat semua orang yang sempat tegang jadi sedikit lega. Bersamaan dengan itu, suara Wang Ming terdengar pelan, "Kalau begitu, terima kasih, Bos."
Ucapannya membuat semua orang sejenak terdiam, lalu berlalu dengan wajah masing-masing, bahkan di wajah kepala dapur, Wang Wen Dong, sempat terpancar keheranan.
Padahal ia menduga, dengan beban kerja di Restu Agung yang begitu berat, setelah seharian Wang Ming pasti kelelahan. Kata-kata barusan jelas bermaksud memancing emosi Wang Ming agar masalah jadi besar. Sebagai kepala dapur, ia punya cukup alasan dan hak untuk mengatur tugas karyawan.
Tak disangka, Wang Ming tetap memilih kompromi, tanpa keluhan apa pun. Justru karena itu, Wang Wen Dong malah makin jengkel, seolah telah mengerahkan seluruh kekuatan, tapi tinjunya malah menancap di tumpukan kapas.
Wang Ming tak peduli lagi dengan sekitarnya, ia kembali tenggelam dalam pekerjaan memotong bahan-bahan.
Waktu sibuk selalu berlalu cepat. Selesai membereskan semuanya, Wang Ming makan terburu-buru. Begitu sarafnya mulai rileks, rasa pegal pun menyerbu hebat.
Dengan tubuh letih, Wang Ming melangkah keluar pintu hotel. Mendapati jalanan sudah sepi, ia menarik napas dalam-dalam, lalu menuju arah jalan pejalan kaki. Baru saja ia menginjak trotoar, dua sosok yang dikenal langsung tertangkap matanya.
"Kelompok korban penindasan?" Wang Ming sempat tertegun, lalu menatap ke depan. Di depan kios kecil di pinggir trotoar, San Pang dan Zhong Ge duduk di bangku panjang, menatap ke arahnya. Jelas mereka sudah lama menunggu.
Melihat Zhong Ge melambaikan tangan, Wang Ming hanya bisa tersenyum getir. Tubuhnya terasa remuk, ingin segera pulang dan beristirahat, namun melihat raut penuh harap dari keduanya, ia pun tak tega menolak.
"Nih, minum dulu, biar badan segar," ujar San Pang pelan, masih merasa malu karena kejadian siang tadi, bahkan saat menatap Wang Ming pun sedikit menghindar. Sementara itu, Zhong Ge sudah lebih ceria. Melihat Wang Ming mendekat, ia bangkit berdiri, menyerahkan sebotol bir yang belum dibuka.
Wang Ming menggelengkan kepala, menolak tawaran Zhong Ge. Ia tinggal di rumah Paman Li Guang, pulang terlalu larut tidak baik, apalagi tubuhnya sedang pegal, benar-benar tak berminat.
"Hari ini capek banget, aku pulang duluan ya," ujar Wang Ming, sambil memijat bahu dan berbalik. Tiba-tiba, San Pang yang sedari tadi diam, membuka suara.
"Kau tahu tidak, kenapa Wang Wen Dong begitu memusuhimu?"