095: 【Kobe Kecil dan Jack Kecil】
Setiap tahun, liga EBC selalu menarik perhatian banyak bintang NBA, bintang NCAA, bahkan pemain-pemain bintang dari liga SMA untuk ikut serta. Ini adalah organisasi masyarakat yang longgar, dan kelonggaran inilah yang justru membuat liganya begitu memikat.
Tahun ini, ada delapan tim yang berpartisipasi dalam liga EBC, dan hampir setiap tim telah melakukan peningkatan pemain dari tahun sebelumnya.
Fan Xi, Kobe Bryant, Anthony Mason Junior, dan John Starks bergabung dalam sebuah tim bernama “Pengembara”—nama yang terdengar kurang membawa keberuntungan.
Alasan kemunculan Kobe di sini cukup panjang untuk diceritakan.
Sejak terakhir kali Fan Xi membantu Vince Carter meraih trofi Supernova kedua, Kobe Bryant memang setengah ngambek selama hampir sebulan, tidak mau berurusan dengan Fan Xi.
Namun, sehari setelah ajang draft, Kobe menelepon Fan Xi, menanyakan cara merawat induk kucing setelah melahirkan.
Dengan nada dingin dan aksen Italia yang khas, Kobe berkata pada Fan Xi, “Kucing betina di rumahku melahirkan empat anak kucing, semuanya betina. Sekarang produksi susunya agak kurang, apa yang harus kulakukan?”
Siapapun bisa menebak, Kobe hanya sedang mencari alasan agar bisa mendekat pada Fan Xi. Begitulah sifatnya yang gengsi.
Memang, dia adalah anak yang cukup tertutup. Di kamp pelatihan, dia tak pernah bicara dengan orang lain, dan setiap kali di lapangan, dia ingin sekali membuat lawan menangis. Dalam kehidupan sehari-hari, dia juga enggan berkomunikasi karena aksennya yang unik.
Jadi, dalam beberapa hal, kenyataan bahwa dia mau menelepon Fan Xi menandakan bahwa dia menganggap Fan Xi sebagai teman. Fan Xi sendiri sangat menyadari hal ini, karena tingkat kesukaan Kobe Bryant padanya bahkan mencapai empat.
Mendapat telepon dari pemain berbakat seperti ini, Fan Xi pun menjawab dengan profesional, “Kalau susu induk kucing kurang, bisa dibantu dengan sup ikan tanpa garam.”
“Oh!”
Kobe sampai tertegun. Awalnya dia hanya ingin membuka topik lain dengan dalih ini, tidak berharap Fan Xi benar-benar memberi solusi. Tak disangka Fan Xi memang serba tahu, urusan seperti ini pun paham. Pantas saja bisa terpilih sebagai pemain lotere saat masih SMA.
Saat Kobe bingung harus berkata apa, Fan Xi menambahkan, “Semua anak kucing betina? Aneh juga ya.”
“Iya,” jawab Kobe, terdengar sedikit bangga. “Mungkin induk kucing di rumah kami memang hebat. Katanya kalau induk kuat, anaknya betina, kalau jantan kuat, anaknya jantan.”
Fan Xi pun merasa mendapat pelajaran baru.
Setelah itu, Kobe menanyakan hal-hal tentang apa yang perlu diperhatikan saat pemain SMA ikut draft, juga bagaimana berhadapan dengan manajer NBA. Ambisi Kobe begitu jelas, dia ingin langsung masuk draft setelah lulus SMA.
Selain itu, dia juga membocorkan pada Fan Xi, “Jerry West sangat menyukai bakatku. Sejak di New York, hampir setiap dua minggu dia menelepon menanyakan kabarku, bahkan mengirimi aku video teknik Michael Jordan dan dirinya sendiri. Tapi aku kurang tertarik dengan gerakan-gerakan lawasnya, mudah sekali ditebak oleh pertahanan.”
Fan Xi hanya bisa diam-diam merasa kasihan pada Jerry West, sepertinya sudah salah menaruh harap.
Sejak percakapan hari itu, Kobe hampir setiap hari menelepon Fan Xi selama setengah sampai satu jam, membahas hanya tentang basket—tentang bagaimana menembus pertahanan lawan. Harus diakui, pemahaman Kobe tentang menyerang sangat unik. Cara dia membaca dan mengatasi pertahanan lawan juga memberi inspirasi besar bagi Fan Xi.
Tentu saja, Fan Xi juga berusaha menanamkan pentingnya umpan pada Kobe. Tapi dari nada bicara Kobe, jelas dia kurang berminat. “Aku mengejar kesempurnaan. Kalau aku jadi senjata serangan terbaik di dunia, semua point guard dan center di sekitarku pasti akan diuntungkan.”
Perkataan Kobe Bryant sejalan dengan filosofi basketnya.
Fan Xi tak bisa bilang dia salah.
Sejak Fan Xi pindah ke vila baru, Kobe berkali-kali bilang ingin ke New York, bermain bersama Fan Xi. Fan Xi tentu saja menyambut dengan tangan terbuka. Ia tinggal bersama Sam Powell di sebuah vila dengan luas bangunan 250 meter persegi, lengkap dengan taman depan dan belakang, kadang terasa sepi juga.
Marbury kadang mampir, tapi karena jaraknya jauh, dan Marbury adalah orang yang sangat menjaga harga diri, dia merasa Fan Xi sekarang sudah kaya, jadi ia juga harus jadi kaya dulu agar bisa berteman lebih leluasa. Itulah motivasi Marbury. Fan Xi maklum saja, dan dia tahu, Marbury pasti akan segera kaya, karena dia juga pemain berbakat.
Setelah Fan Xi menerima permintaan John Starks, keesokan harinya Kobe Bryant datang. Ayahnya sedang di New Jersey untuk urusan pekerjaan, berharap bisa mendapatkan posisi asisten pelatih di klub Nets yang tengah kacau setelah Chuck Daly mundur. Joe Bryant tidak puas hanya jadi pelatih SMA di Philadelphia, dia ingin pengalaman profesionalnya membantunya dapat pekerjaan itu. Kobe pun berharap demikian, agar dia bisa pindah sekolah ke New Jersey.
Saat tahu Fan Xi akan main di liga EBC di Rucker Park, Kobe langsung bersemangat dan ingin ikut bergabung.
Fan Xi pun bicara pada John Starks. Starks dengan senang hati menerima, “Oh ya? Seorang guard SMA, aku tak keberatan. Suruh saja dia ikutku, biar dia belajar ilmu NBA langsung, nanti bisa pamer ke teman-temannya di Philadelphia soal kedekatannya dengan guard nomor satu New York, John Starks.”
Tapi semangat Starks di telepon sangat berbeda dengan ekspresi wajahnya saat latihan perdana.
Kenapa aku mau-mau saja mengizinkan bocah dari kampung, Philadelphia, gabung di timku?
Setelah setengah jam latihan, Starks sudah tak tahan. Ini bukan anak yang mau belajar, ini benar-benar raja bola kecil! Baru masuk sudah minta lapangannya dikosongkan, bahkan menolak screen dari “Raja Pembunuh Terakhir New York” Anthony Mason Junior… Hei, Nak, kamu pernah lihat tinju sebesar panci?
“Terus terang, aku belum pernah lihat bocah semenyebalkan ini,” kata Anthony Mason Junior saat istirahat pada Fan Xi. “Dia lebih menyebalkan dari kamu.”
Fan Xi hanya tersenyum.
Anthony Mason Junior, Starks, dan Kobe berada dalam satu kelompok.
Dua bintang NBA tadinya datang untuk “membimbing”, eh malah jadi korban Kobe kecil.
Starks jadi sadar betapa jauhnya ia dari predikat “raja bola”. Dia bahkan merasa dalam dua laga terakhir final kemarin, dia terlalu tidak egois. Kalau seperti Kobe, mungkin fans Knicks sudah menggugat ke pengadilan tinggi New York, minta dia dihukum mati.
“Dia masih anak-anak,”
Fan Xi yang berusia 17 tahun menjelaskan untuk Kobe yang baru 16 tahun.
Anthony Mason Junior yang berwajah garang saja sampai tertawa, “Dia masih anak-anak, katanya?”
Kobe saat latihan mencetak 28 poin.
Bahkan, setelah itu menantang John Starks duel satu lawan satu. Kalau Starks tidak mengandalkan kekuatan fisiknya, dia pasti sudah kalah dari Kobe.
“Bocah ini kalau masuk NBA, cepat atau lambat pasti digebukin teman setimnya.” Starks meramalkan, “Itu saja yang bisa kukatakan.”
Fan Xi hanya tersenyum canggung.
Mulai latihan kedua, Kobe pun dilempar ke tim cadangan.
Awalnya, Starks ingin Kobe belajar di belakangnya. Tapi siapa sangka, Kobe malah ingin mengajari mereka semua.
Dan kemampuannya memang luar biasa.
Akhirnya, dia ditempatkan di tim cadangan, di mana dia memegang kontrol penuh atas bola, seperti harimau turun gunung, kemampuan menyerangnya benar-benar maksimal… lawan-lawannya di tim jalanan pun dibuat tak berdaya.
Malam harinya,
John Starks dengan senang hati mengajak Fan Xi dan Kobe keluar untuk “buka mata.”
Tapi akhirnya batal karena Fan Xi dan Kobe belum cukup umur untuk minum alkohol menurut hukum negara bagian New York.
Hal ini membuat “Raja Pembunuh Terakhir New York” sangat kesal.
“Menjengkelkan!”
Anthony Mason Junior menunjuk hidung Fan Xi, “Begini penampilanmu, jangankan keluar main perempuan, pelacur pun tak mau melayanimu. Mereka takut dituntut….”
Mason memang berlidah tajam, bicara tanpa filter.
Tapi dia orang yang polos, apa adanya, dan mudah akrab. Meski suka mengaku membenci Fan Xi dan Kobe, saat bertemu ia malah memberi Fan Xi sepasang sepatu basket dan setumpuk kaset dewasa, berharap Fan Xi belajar gaya-gaya dari situ. Jangan sampai memalukan dia, si Raja Hidup Malam New York, kalau suatu saat keluar bersama.
Sang Raja berkata, sebagai anak didiknya Anthony, meski masih polos, Fan Xi harus jadi “ayam jago tempur”. Di lapangan harus tampil percaya diri.
Fan Xi berterima kasih, meski ia tidak tertarik dengan seri-seri seperti Woodpecker atau Los Angeles Big Gun.
Tapi Kobe Bryant malah tampak tertarik dan bilang ingin mempelajari isinya.
Hal itu membuat Fan Xi cukup terkejut.
Namun, ucapan Anthony Mason Junior membuat Fan Xi jadi memikirkan satu hal—jika dia berhubungan dengan Jennifer Aniston, apakah itu akan berdampak hukum baginya?
Serial televisi Aniston akan segera selesai syuting. Bulan ini mereka sudah diam-diam bertemu dua kali, tapi belum ada langkah lebih jauh. Tapi lain kali, pasti akan melewati tiga tahap (yaitu cium, sentuh, masuk).
Aniston sangat percaya diri dengan serial barunya. Berkali-kali ia bilang pada Fan Xi di telepon, “Karierku akan segera melejit. Kamu sudah jadi miliuner, aku juga tak mau kalah, aku tak mau dicap jadi wanita yang hidup dari adik kecilmu.”
Fan Xi pun memberi doa dan kata-kata manis yang bikin hati meleleh lewat telepon.
Begitulah sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
...
[Malam ini akan ada update lagi.]